Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Dwi Kora

3 PEMUDA "PEMBERANI" DALAM KONFRONTASI GANYANG MALAYSIA

" Ganyang Malaysia!” Slogan Konfrontasi dalam Hubungan Indonesia-Malaysia, tahun 1963-1966 Sejarah dan latar belakang, jalannya konfrontasi, dan dampak jangka panjang dengan slogan “Ganyang Malaysia” dalam politik dan budaya Indonesia-Malaysia,  ini mengungkap tentang perjuangan anti-neokolonialisme di era Soekarno, yang membentuk hubungan bilateral dua negara serumpun hingga kini, termasuk peran tokoh pejuang dan bagaimana strategi militer Dwikora yang legendaris. Pada awal 1960-an, ketika dunia masih dihimpit oleh ketegangan antara Blok Barat (Diketuai Amerika) dan blok Timur (Diketuai Uni Soviet), dimana Republik Indonesia berada pada titik historis yang penuh gejolak, sebagai anggota Non-Blok.  Keputusan pembentukan Federasi Malaysia pada 16 September 1963 menjadi pemicu salah satu bab paling dramatis dalam hubungan dua bangsa serumpun: Indonesia dan Malaysia. Dalam konteks itulah muncul slogan “ Ganyang Malaysia! ”, yang dilontarkan oleh Presiden Soekarno sebagai simbol ...

Kisah Para Perwira Muda yang Membentuk Sejarah Militer Indonesia di Era Demokrasi Terpimpin

Panglima Angkatan  Kisah Para Perwira Muda yang Membentuk Sejarah Militer Indonesia di Era Demokrasi Terpimpin Tahun 1964 menjadi salah satu puncak kekuatan pemerintahan Presiden Soekarno. Dengan semangat revolusi, Bung Karno memimpin bangsa Indonesia menuju cita-cita besar, yakni berdiri diatas kaki sendiri  berdikari  baik fi bidang politik, ekonomi, dan kebudayaan. Ketika dunia sedang terbelah dua antara Blok Barat dan Blok Timur, dan Indonesia memilih berdiri di jalur “poros sendiri” dengan semboyan Bebas Aktif.  Di tengah gejolak itu, Presiden Soekarno dikelilingi oleh lima sosok militer muda yang menjadi kepercayaan sebagai tulang punggung pertahanan negara, sekaligus simbol loyalitas kepada Republik. Mereka adalah Jenderal AH Nasution, Letjen Ahmad Yani, Laksamana RE Martadinata, Marskal Oemar Dani, dan Mayjen Soeharto. Kelima tokoh inilah yang pada masa itu duduk sejajar dalam barisan elite militer Indonesia. Masing-masing memimpin matra yang berbeda: darat...