Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Pahlawan Revolusi

KARIER MILITER dan KISAH ASMARA "PIERRE TENDEAN" Pahlawan Revolusi.

Kapten PIERRE TENDEAN Lahir dan Latar Belakang Keluarga Kapten Pierre Andries Tendean lahir di Jakarta pada 21 Februari 1939. Ia berasal dari keluarga dengan latar belakang budaya yang unik, yaitu campuran Minahasa, Prancis dan Belanda. Ayahnya bernama Dr. A.L. Tendean , seorang dokter yang berasal dari Minahasa, Sulawesi Utara. Sementara ibunya adalah Maria Elizabeth Cornet , seorang wanita keturunan Belanda. Dari keluarganya inilah Pierre tumbuh sebagai pribadi yang disiplin, cerdas, dan berkarakter kuat. Agama Pierre Tendean dibesarkan dalam keluarga Katolik . Didikan agama dan nilai moral yang kuat menjadi pegangan hidup Pierre Tendean dalam menjalani masa muda maupun pengabdiannya di militer. Pendidikan Masa kecil dan remajanya dihabiskan di Magelang , Tendean mengenyam pendidikan dasar di Sekolah Rakyat Boton (sekarang ditempati SMP Negeri 4) di Magelang. Pada tahun 1952, Tendean mulai belajar di SMP Negeri 1 dan kemudian pada tahun 1955 di SMA bagian B (sekarang SMA Nege...

9 hal, Soekarno tidak Hadir Upacara Pemakaman Pahlawan Revolusi

Ada apa dengan Presiden Soekarno? ".... Kontroversi dan Pertimbangan Politik di Balik Ketidakhadiran Presiden Soekarno, atas Peristiwa G30S/PKI tahun 1965 peristiwa paling kelam dan kejam dalam sejarah Indonesia, khususnya bagi TNI. Kekejaman yang merenggut nyawa para perwira tinggi Angkatan Darat dan Brimob Polri (KS TUBUN) di Jakarta, ditambah 3 (tiga) Perwira di Jogjakarta..." Setelah para Pahlawan Revolusi ditemukan pada tanggal 4 Oktober, lalu dimakamkan secara militer pada 5 Oktober 1965—bertepatan dengan Hari Ulang Tahun TNI—namun banyak pihak mempertanyakan mengapa Presiden Soekarno—yang pada saat itu masih menjabat sebagai Kepala Negara dan Panglima Tertinggi—tidak hadir dalam upacara pemakaman tujuh perwira tersebut. Ketidakhadiran Soekarno menimbulkan berbagai spekulasi dan multitafsir, baik dari sisi politik, militer, maupun pribadi. Mengapa Sang Proklamator mengambil langkah kontroversial ini di tengah situasi yang mendidih?  1.  Kronologi Singkat G30S/PKI  M...

PKI : Tragedi berdarah dari Sumur Soco Magetan hingga ke Sumur Lubang Buaya

". ...Tragedi Berdarah yang Menggores Luka Bangsa Indonesia, dari Sumur Soco Magetan hingga Sumur Lubang Buaya...."         Sejarah Indonesia tidak hanya berisi tentang kisah kepahlawanan melawan penjajah, tetapi juga perjuangan melawan bangsa sendiri (PKI) yang menggores lembaran kelam ketika sesama anak bangsa saling menghunus senjata. Sejarah mencatat, PKI telah melakukan serangkaian aksi pemberontakan dan pembantaian yang merenggut ratusan ribu nyawa (1927 - 1965). Dari jeritan yang terperangkap di dalam sumur tua Magetan (dikubur hidup-hidup), hingga jasad jenderal yang dilemparkan ke sumur tua di Lubang Buaya, sejarah ini menjadi peringatan bahwa ambisi politik tanpa nurani hanya menyisakan duka, menyengsarakan anak negeri, korban jiwa bukan hanya dari militer, tapi juga dari Anggota Kepolisian (Brimob - POLRI). KS TUBUN  1. Pemberontakan PKI 1926–1927           PKI pertama kali memberontak melawan pemerintah Belanda. Aksi bersenja...

Adik TNI - Kakak PKI : S Parman TNI-AD, sedangkan Sakirman PKI

" ...Dua saudara, Dua jalan, Dua ideologi, Dua pemikiran tapi $atu tujuan yaitu demi mengisi alam Kemerdekaan Indonesia..." Kita tentu mengenal nama Letjen S Parman (Pahlawan Revolusi) sebagai Pentolan TNI, ternyata ia memiliki kakak kandung bernama Sakirman sebagai dedengkot PKI A. Dua bersaudara: TNI  -  PKI  Keluarga "Kasido Kromodihaijo", dan istrinya Marinah Kromodiharjo, sebagai seorang pedagang sukses di Wonosobo. Mereka tinggal di Jalan Mentaraman, Kampung Sudagaran, Wonosobo (Jawa Tengah). Kasido dikenal sebagai pedagang yang cukup berhasil, yang kemungkinan besar bergerak di bidang perdagangan umum atau komoditas lokal di wilayah Wonosobo. Kehidupan keluarga ini cukup terpandang atas keberhasilannya sebagai pedagang mendukung pendidikan dan perkembangan bagi anak-anaknya. Dari perkawinannya melahirkan 11 orang anak, meskipun pada akhirnya , keluarga ini kemudian terpecah oleh konflik ideologis diantara anak-anaknya—Sakirman di kiri (PKI) dan S. Parman di k...

Kesaktian Pancasila "sebagai" Jiwa, Semangat dan Identitas Bangsa Indonesia

 "... .Memaknai Peringatan: "Hari Kesaktian Pancasila sebagai Benteng Persatuan-Kesatuan serta Pertahanan-Ketahanan Bangsa Indonesia...." Tanggal 1 Oktober setiap tahunnya diperingati sebagai Hari Kesaktian Pancasila, sebagai " Momentum Bersejarah " untuk mengenang betapa kuatnya dasar negara Indonesia dalam menghadapi rongrongan ideologi yang ingin menggantikan Pancasila. Bermula dari Peristiwa "kelam + tragis" Gerakan 30 September 1965 (G30S/PKI), pada keesokan harinya, tanggal 1 Oktober, berkat kekuatan TNI yang didukung oleh Rakyat, atas ijin dari Allah SWT, telah menjadi bukti sejarah bahwa: "Pancasila bukan sekadar falsafah, tetapi juga perisai bangsa Indonesia yang mampu menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). A). Latar Belakang Sejarah        Hari Kesaktian Pancasila Peristiwa G30S/PKI yang meletus pada malam 30 September 1965 menjadi salah satu tragedi berdarah dalam sejarah Indonesia. Kelompok yang berideologi komuni...

3 Nama "Penumpas" G30S PKI: SOEHARTO, SARWO, NASUTION

"... Sejarah kelam bangsa Indonesia, akibat terjadinya pengkhianatan melalui G30S/PKI 1965. Disebut "Pengkhianatan" karena dilakukan oleh beberapa tokoh nasional Indonesia,  Pejabat Negara (Menteri/Wakil menteri) serta sejumlah oknum militer (TNI)... "  Peristiwa G30S/PKI merupakan tragedi besar dalam sejarah Indonesia modern, yang masih berusia "20 tahun Merdeka". Peristiwa itu, terjadi pada malam 30 September 1965, dimana Partai Komunis Indonesia (PKI) melancarkan gerakan militer yang menargetkan pucuk pimpinan Angkatan Darat, dengan memakai istilah "Dewan Jenderal" yang mengakibatkan " Tujuh Perwira" menjadi korban dalam peristiwa keji tersebut. Namun, gerakan itu hanya bertahan singkat karena dalam hitungan hari, kekuatan militer di bawah kendali Mayor Jenderal Soeharto, didukung Kolonel Sarwo Edhie Wibowo dan Jenderal A.H. Nasution, berhasil menumpasnya. Dari tragedi itu, lahir babak baru sejarah Indonesia yang dikenal sebagai O...