Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Sejarah Dunia Militer

Kisah Para Perwira Muda yang Membentuk Sejarah Militer Indonesia di Era Demokrasi Terpimpin

Panglima Angkatan  Kisah Para Perwira Muda yang Membentuk Sejarah Militer Indonesia di Era Demokrasi Terpimpin Tahun 1964 menjadi salah satu puncak kekuatan pemerintahan Presiden Soekarno. Dengan semangat revolusi, Bung Karno memimpin bangsa Indonesia menuju cita-cita besar, yakni berdiri diatas kaki sendiri  berdikari  baik fi bidang politik, ekonomi, dan kebudayaan. Ketika dunia sedang terbelah dua antara Blok Barat dan Blok Timur, dan Indonesia memilih berdiri di jalur “poros sendiri” dengan semboyan Bebas Aktif.  Di tengah gejolak itu, Presiden Soekarno dikelilingi oleh lima sosok militer muda yang menjadi kepercayaan sebagai tulang punggung pertahanan negara, sekaligus simbol loyalitas kepada Republik. Mereka adalah Jenderal AH Nasution, Letjen Ahmad Yani, Laksamana RE Martadinata, Marskal Oemar Dani, dan Mayjen Soeharto. Kelima tokoh inilah yang pada masa itu duduk sejajar dalam barisan elite militer Indonesia. Masing-masing memimpin matra yang berbeda: darat...

ALI MURTOPO ikut mencetak SUHARTO jadi Presiden RI ke-2

".... Di balik kekuasaan Soeharto yang menaklukkan G30S PKI 1965, akhirnya SUHARTO meraih panggung politik Indonesia selama lebih dari tiga dekade, tersembunyi sosok yang jarang disebut dalam buku sejarah resmi: Letnan Jenderal (Purn.) ALI MURTOPO.."         Ba gaimana Strategi, Intelijen, dan Politik Rahasia Membentuk Orde Baru Pemerintahan Soeharto, di kawal oleh Letjend ALI MURTOPO. Dia bukan hanya sebagai "Penasihat militer", dibidang Intelijen, untuk mengendalikan kekuatan militer tetapi juga arsitek rahasia di balik panggung politik, militer, penguatan GOLKAR, dan penguasaan narasi media. Dari operasi rahasia hingga diplomasi internasional, sepak terjangnya menentukan jalan sejarah Indonesia modern. A. Latar Belakang: Sang Arsitek Strategis           Lahir pada 1924, Ali Moertopo bukan tokoh biasa. Dari anggota laskar Hisbullah di Pekalongan hingga pendiri CSIS, ia meniti jalan sebagai “jagoan intelijen” yang selalu bergerak di balik l...