"...Dua saudara, Dua jalan, Dua ideologi, Dua pemikiran tapi $atu tujuan yaitu demi mengisi alam Kemerdekaan Indonesia..."
Kita tentu mengenal nama Letjen S Parman (Pahlawan Revolusi) sebagai Pentolan TNI, ternyata ia memiliki kakak kandung bernama Sakirman sebagai dedengkot PKI
A. Dua bersaudara: TNI - PKI
Keluarga "Kasido Kromodihaijo", dan istrinya Marinah Kromodiharjo, sebagai seorang pedagang sukses di Wonosobo. Mereka tinggal di Jalan Mentaraman, Kampung Sudagaran, Wonosobo (Jawa Tengah). Kasido dikenal sebagai pedagang yang cukup berhasil, yang kemungkinan besar bergerak di bidang perdagangan umum atau komoditas lokal di wilayah Wonosobo. Kehidupan keluarga ini cukup terpandang atas keberhasilannya sebagai pedagang mendukung pendidikan dan perkembangan bagi anak-anaknya. Dari perkawinannya melahirkan 11 orang anak, meskipun pada akhirnya , keluarga ini kemudian terpecah oleh konflik ideologis diantara anak-anaknya—Sakirman di kiri (PKI) dan S. Parman di kanan (militer nasionalis).
S. Parman menempuh jalur militer. Pendidikan kedokteran yang sempat dijalaninya berubah arah ketika Jepang masuk ke Indonesia , ia mendaftar sebagai Prajurit Kempeitai (Polisi Militer Jepang) ia juga pernah dikirim ke Jepang untuk mempelajari ilmu-ilmu inteligen. Ia juga bekerja sebagai penterjemah di Jogjakarta, sementara sang kakak menempuh jalur pendidikan, dan bergelar "Insinyur" (Sarjana Teknik)
S. Parman, lahir di Wonosobo (4 Agustus 1918). Menempuh pendidikan dasar dan menengah di sekolah Belanda setempat: HIS → MULO → AMS (Yogyakarta). Setelah AMS ia melanjutkan ke Sekolah Tinggi Kedokteran (GHS) di Jakarta, namun studinya terhenti karena pendudukan Jepang (1942). Selama masa pendudukan Jepang sempat bekerja pada Kempeitai (polisi militer Jepang) dan pernah dikirim ke Jepang untuk pelatihan intelijen; setelah kembali bekerja juga sebagai penerjemah di Yogyakarta. (Ini menjelaskan latar belakang intelijennya di kemudian hari).
Tahun 1945 (sesudah Proklamasi) — Siswondo (S Parman ) bergabung dengan Tentara Keamanan Rakyat (TKR, cikal bakal TNI) dan ditempatkan pada Korps Polisi Militer / Military Police. Pada akhir Desember 1945 diangkat sebagai Kepala Staf Polisi Militer di Yogyakarta. Karena kecerdasannya ia salah satu perumus BKR menjadi TKR, bersama Letjen Oerip Soemoharjo, yang ditugaskan oleh Presiden Soekarno, untuk menata militer Indonesia, menjadi Tentara profesional modern dengan struk organisasi dan jenjang karier yang jelas. Sementara sang kakak, meniti karier dibidang Politik hingga menjabat sebagai anggota KNIP (Komisi Nasional Indonesia Pusat) yang dibentuk oleh Pemerintah berdasarkan Maklumat Wakil Presiden No. X tahun 1945 tanggal 16 Oktober 1945. Sakirman sebagai anggota KNIP utusan partai dari PKI, posisinya sama dengan Partai Masyumi, dan lain-lainnya. Tugas KNIP : sebagai Parlemen sementara, perumus legislasi/aturan perundang-undangan bersama pemerintah
B. Pemberontakan PKI Madiun 1948
Posisi S Parman sedang menjabat sebagai Perwira Polisi Militer (TNI-AD) dibawah pimpinan Gatot Subroto, ikut serta memberantas Pemberontak PKI melalui Jalur Inteligen, sementara sang kakak (Sakirman) berada di Pihak PKI dan memegang posisi penting, sebagai Politbiro, sebagai Badan Pengambil keputusan tertinggi setelah Kongres. Sang kakak (Sakirman) sebagai penyebar ide komunis sekaligus pendulang massa buruh dan tani, untuk melakukan gerakan, sebaliknya sang adik (S. Parman) sebagai perwira TNI (CPM) bertugas sebagai inteligen untuk mengawasi pergerakan PKI. Sementara sang Kakak menjadi petinggi di Partai sebagai Politbiro PKI.
Pasca Peristiwa Tragis PKI Madiun.
"Dua bersaudara, Dua Ideologi, Dua Pemikiran yang saling bertolak belakang"
Adik pemikir TNI vs Kakak Pemikir PKI.
S. Parman, pada sekitar tahun 1949 — Menjabat sebagai Kepala Staf (chief of staff) untuk Gubernur Militer Besar Jakarta; naik pangkat menjadi mayor. Pada periode ini terlibat dalam tugas-tugas penegakan keamanan yang termasuk menggagalkan ancaman seperti upaya pemberontakan/aksi milisi pro-Belanda (mis. upaya APRA oleh Raymond Westerling), termasuk memberikan rekomendasi kepada institusi berupa laporan intelijen. Sementara sang kakak (Sakirman) posisinya terpuruk pasca penembakan Musso dan penangkapan Mr. Amir Sjarifuddin (bekas petinggi negeri ini)
Tahun 1955 - 1960:
Sakirman terpilih sebagai Anggota DPR Pusat, dan menjabat sebagai Ketua Fraksi dari partai PKI, sekaligus sebagai Dewan Perancang Pembangunan Nasional. Sementara sang adik (S. Parman) menjabat sebagai Komandan Kodam Siliwangi (1955 - 1957), Kemudian dipercayakan menjabat sebagai Panglima Kodam Diponegoro (1957 - 1960)
Tahun 1960 - 1965
Sakirman terpilih sebagai Anggota DPR - GR (Gotong Royong) sementara sang adik (S. Parman) sebagai Atase Militer di London Inggris, kemudian pulang ke tanah air menjabat sebagai Asisten 1 bidang intelijen Menteri Panglima Angkatan Darat (Menpangad)
Tragedi berdarah, Tragis dua bersaudara
Malam dini hari, 1 Oktober 1965, Mayjend S Parman dieksekusi oleh kelompok pemberontak, menggunakan militer dari kesatuan Cakrabirawa (pasukan pengawal presiden) yang menamakan dirinya G30S (Gestapu) "Gerakan 30 September" Pasukan penculik mendatangi rumahnya. Ia ditodong, diseret baik truk menuju Lubang Buaya. Tubuhnya ditemukan tiga hari kemudian bersama jenderal lain, penuh luka, dimasukkan ke dalam sumur tua.
Kesimpulan :
Sakirman, pemikir strategis bagi PKI
Sakirman dieksekusi TNI: 1966
Baik S. Parman maupun Sakirman sama-sama ingin Indonesia merdeka dan adil makmur sejahtera, tapi dengan keduanya memilih cara yang berbeda dari ideologi yang bertolak belakang diantara keduanya (TNI vs PKI) meski berstatus sebagai adik kakak (Letjen S Parman vs Sakirman)
"....Dua saudara, dua jalan, dua ideologi, dua pemikiran tapi satu tujuan yaitu demi Kemerdekaan Indonesia..."
Keduanya: sama-sama berakhir dalam kematian yang tragis. Kisah mereka menguatkan sebuah kata bijak: "Apapun dalam diri ini bisa berganti, termasuk agama sekalipun tetapi tidak demikian untuk sebuah ideologi yang dianut oleh individu-individu.
Kata bijak dari Tokoh Dunia;
Buddha, mengatakan: “Pikiran adalah segalanya. Apa yang kamu pikirkan, itulah yang kamu jadi.”
Marcus Aurelius (Filsuf Stoa Romawi), mengatakan: “Kita menderita lebih banyak dalam imajinasi daripada dalam kenyataan.”
Epictetus, mengatakan: “Manusia bukan terganggu oleh kejadian, melainkan oleh pandangan mereka tentang kejadian itu.”
“The only thing we have to fear is fear itself.”
“Satu-satunya yang harus kita takuti adalah rasa takut itu sendiri.”
“We can complain because rose bushes have thorns, or rejoice because thorns have roses.”
Mengajarkan bahwa; "cara kita mengolah pikiran menentukan rasa takut atau bahagia."
“Nothing can stop the man with the right mental attitude from achieving his goal.”
Artinya, hambatan terbesar justru datang dari sikap mental dan pikiran kita sendiri.
==💓Terima Kasih🇲🇨==Hormat Santun
Dari saya: 🙏🏻 RENDI (Panglima 05)🦜


Komentar
Posting Komentar