"...Kisah panjang perjalanan hidup Jenderal Besar H. M. Soeharto — dari anak petani desa kemusuk- Jogjakarta yang pemalu hingga sukses jadi presiden paling lama memimpin Indonesia selama 32 tahun...."
Soeharto adalah salah satu tokoh paling berpengaruh dalam sejarah Indonesia modern. Lahir di sebuah desa kecil bernama Kemusuk, Yogyakarta, ia tumbuh dalam kesederhanaan, jauh dari gemerlap kota, dan gelimangan harta, apalagi kekuasaan orangtuanya. Namun takdir membawanya menapaki jalan panjang: dari seorang bocah sawah yang pemalu, menjadi prajurit militer, lalu menjadi Jenderal Besar, hingga akhirnya menjadi "Presiden Republik Indonesia ke-2 (1967- 1998), selama hampir 32 tahun ia memimpin negeri ini dalam era yang disebut Orde Baru. Namanya dikenang sebagai Bapak Pembangunan, tetapi juga meninggalkan kontroversi besar. Inilah kisah panjang, penuh drama, tentang perjalanan hidup Soeharto — dari sawah Kemusuk hingga detik-detik lengser pada 1998.
A. Latar Belakang: Anak Petani Sawah dari Kemusuk Jogjakarta
Soeharto lahir pada 8 Juni 1921 di Dusun Kemusuk, Argomulyo, Godean, Yogyakarta. Ia berasal dari keluarga sederhana: ayahnya bernama Kertosudiro, seorang petani sekaligus modin desa, sedangkan ibunya bernama Sukirah, (ibu rumah tangga). Semenjak kecil, Soeharto dikenal sebagai pribadi yang pendiam, pemalu, sederhana, namun disiplin dan tegas. Tetangga memanggilnya di kampung memanggilnya: "Den Bagus" karena wajahnya yang tampan. Namun hidupnya penuh perjuangan. Orangtuanya bercerai, sehingga Soeharto kecil kerap berpindah-pindah rumah, dari keluarga ke keluarga, diasuh oleh keluarga besar.
Detik-detik ketika di Sawah
Pagi itu, embun masih menempel di batang padi. Seorang bocah kecil berjalan pelan di pematang sawah, kaki telanjang, baju lusuh, sedang membantu ayahnya mengatur irigasi, sebagai "Modin Desa". Bocah itu adalah Soeharto. Dari sawah itulah ia belajar arti sebuah kesabaran, kerja keras, dan diam-diam menumbuhkan tekad: untuk keluar dari lingkaran kemiskinan. Tidak ada yang tahu, tak satupun yang prediksi, bahwa anak sawah yang pemalu itu kelak akan duduk di kursi presiden.
B. Pendidikan: Jalan Berliku Anak Desa
Soeharto memulai sekolah di Desa Puluhan, kemudian pindah ke Pedes. Ia melanjutkan ke Sekolah Ongko Loro (Sekolah Rakyat), tetapi kerap terhambat biaya. Masa kecilnya diwarnai kepindahan dari satu keluarga ke keluarga lain, membuat pendidikannya tidak mulus. Meski begitu, ia tetap tekun dan rajin. Ia sempat bekerja di bank desa, lalu kemudian , memilih jalur militer sebagai jalan hidup. Pendidikan formalnya tak tinggi, tetapi pengalaman di “lapangan” justru itulah yang membentuk menjadi pribadi yang kuat.
C. Pengalaman dan Latihan Militer
Tahun 1942, Jepang masuk ke Indonesia. Soeharto bergabung dengan PETA (Pembela Tanah Air), sebuah organisasi militer bentukan Jepang. Dari sinilah ia mendapat pendidikan dan latihan tentang kepribadian, disiplin, moralitas, strategi, dan kepemimpinan. Setelah proklamasi 1945, ia bergabung dengan BKR (cikal bakal TNI), ikut dalam berbagai pertempuran mempertahankan kemerdekaan. Salah satu momen penting: ia memimpin serangan untuk merebut kembali Yogyakarta dari Belanda pada 1949. Dari sinilah karier militernya semakin makin bersinar dan terkenal (melegenda).
D. Karier Militer dan Politik
Panglima Divisi Diponegoro (1957-1959)
E. Makna/Tujuan KOTI & SUPERSEMAR
1. KOTI (Komando Tertinggi)
Dibentuk pada desember 1961, untuk mengkoordinasikan seluruh kekuasaan Politik, Diplomasi dan Militer, untuk merebut "IRIAN BARAT" (Irian Jaya/Papua). Presiden Soekarno, sebagai Panglima Tertinggi "terjun langsung" memimpin merebut Irian Barat. Wakil Pangkoti, dijabat oleh Jenderal Sumitro, Penanggungjawab di tangan AH Nasution (KSAB) beserta KASAD, KASAL, KASAU,dan KAPOLRI.
Sedangkan posisi SOEHARTO, sebagai Panglima KOSTRAD, memimpin pasukan dalam operasi Mandala yang berpusat di Makassar (Sulsel). Pasca perebutan Irian Barat, KOTI dijadikan kekuatan Politik bagi Soekarno, untuk membentuk NASAKOM (Nasional, Agama, Komunis), dari sinilah titik awal (spot) 🔥 muncullah ketegangan antara TNI dan PKI hingga terjadi Peristiwa G30S, atas tragedi ini AH NASUTION (Pak Nas) selaku Wakil Pangkoti, mendesak Presiden Soekarno (Panglima Tertinggi) untuk memberikan kepercayaan kepada Mayjen Soeharto untuk memulihkan keamanan negara. Sehingga banyak ahli yang berpendapat, bahwa KOTI (Komando Tertinggi) inilah menjadi "Kendaraan bagi Soeharto" menuju Kursi Presiden. Jika demikian adanya, maka kesimpulan sementara, sebagai analogi tentang KOTI, sopirnya adalah AH NASUTION, dan kondekturnya adalah SARWO EDHI WIBOWO.
(Surat Perintah Sebelah Maret)
- Jenderal Abdul Haris Nasution, sebagai KSAB (Kepala Staf Angkatan Bersenjata) sekaligus Wakil Panglima Koti, sedang berhalangan, sebab masih dirawat setelah lolos dari penculikan PKI.
- Letnan Jenderal Ahmad Yani, sebagai Kepala Staf Angkatan Darat (KASAD), telah gugur sebagai Pahlawan Revolusi, korban penembakan G30S PKI.
Setelah operasi Penumpasan ini sukses gemilang, berkat dukungan dari Kolonel Sarwo Edhie Wibowo (Komandan RPKAD), Mayjen Soeharto mendapat kepercayaan penuh dari Jenderal Abdul Haris Nasution (Pak Nas) selaku KSAB dan Wakil PANGKOTI, untuk memulihkan keamanan negara. KSAB = Kepala Staf Angkatan Bersenjata, nama ini berubah menjadi PANGAB = Panglima ABRI (AD, AL,AU, AK), terakhir 1999 menjadi Panglima TNI.
Pada suasana genting itu, Pak Nas, banyak dikunjungi oleh Pejabat teras, perihal pendapatnya, untuk masa depan negeri ini. Kemudian selanjutnya "Pak Nas", mengutus 3 (tiga) jenderal terpercaya, untuk menemui dan mendesak Presiden Soekarno agar memberikannya kewenangan pemulihan keamanan dan pembersihan PKI kepada Mayjen Soeharto. Dedikasi AH Nasution, disampaikan pula dengan cara, melalui 3 (tiga) orang utusan, yaitu: Mayjen Amir Machmud, Mayjen Andi M. Yusuf, dan Brigjen Basuki Rahmat, berlangsung pada tanggal 11 Maret 1966, agar Presiden Soekarno "bersedia" menandatangani Surat Perintah 11 Maret (Supersemar). Surat itu memberi Soeharto wewenang untuk mengambil langkah-langkah srategis demi stabilitas keamanan dan pemulihan dari pengaruh PKI. Dari sinilah "peluang emas " karpet merah Soeharto menuju kursi presiden (RI -1). Pada tahun 1967, ia diangkat sebagai PeNjabat Presiden, menggantikan Soekarno, yang masih kental paham 'Nasakom', pergantian itu melalui TAP MPR (Sementara) yang diketuai oleh Jenderal Abdul Haris Nasution (Putra terbaik Indonesia dari Batak - Sumatera Utara). Setahun kemudian, pada tahun 1968 secara resmi Letnan Jenderal SOEHARTO, dilantik dan diambil sumpah jabatan sebagai Presiden Republik Indonesia ke-2, oleh MPR - RI (Definitif)
F. Kejayaan Orde Baru: Bapak Pembangunan
Selama 32 tahun berkuasa, Soeharto membangun fondasi infrastruktur nasional. Jalan, jembatan, waduk, sekolah, dan puskesmas menjamur. Program REPELITA (Rencana Pembangunan Lima Tahun) jadi tonggak pembangunan, melalui GBHN (Garis-garis Besar Haluan Negara) kemudian dilakukan pembangunan nasional melalui PELITA (Pembangunan Lima Tahun), secara terperinci tiap-tiap bidang dan sektor termasuk tahapan tiap tahun dalam jangka 5 (lima tahun) kedepan. Jadi pembangunan nasional pada jaman "Pak Harto" terencana, terukur, dan sistematis melalui Dewan Ekonomi yang terkenal "RMS" (Radius, Marlin, Soemitro). #Soemitro adalah bapak dari Prabowo Subianto. #Soeharto adalah bapak dari Siti Herdianti (istri Prabowo Subianto). Puncak kejayaan, pada tahun 1984 Indonesia berhasil swasembada beras, diakui oleh FAO (Dunia internasional) menjuluki Soeharto sebagai pemimpin pembangunan. Ia juga aktif dalam diplomasi luar negeri, mendirikan ASEAN bersama negara Asia Tenggara lain. Di mata sebagian rakyat, Soeharto adalah Bapak Pembangunan yang membawa stabilitas dan pertumbuhan ekonomi.
G. Kontroversi dan Kritik
Namun kekuasaan panjang itu "telah" menyisakan kontroversi, yang dituduhkan kepadanya, yakni:
---Demokrasi dibatasi lewat sistem pemilu terkoordinir, dengan memberi Label “Demokrasi Pancasila”.
---Kritik ditekan dan Pers dikontrol ketat,
--- Oposisi dipinggirkan, (Petisi 50)
---isu tentang PETRUS (Penembak Misterius)
---Korupsi merajalela, yang dituduhkan pada putra-putrinya, yang mempunyai banyak perusahaan, dan memonopoli perdagangan.
Di era 1990-an, istilah KKN (Korupsi, Kolusi, Nepotisme) melekat pada rezim Orde Baru. Banyak kebijakan dianggap lebih menguntungkan kroni dan keluarga. KKN dijadikan isu sentral nasional untuk melengserkan Pak Harto dari Kursi Presiden, yang dilakukan oleh kelompok yang menamakan dirinya "REFORMIS", diantaranya adalah Amin Rais (PAN)
H. Detik-Detik Lengser: Mei 1998
Secara kebetulan pula bertepatan dengan "Krisis moneter Asia 1997–1998" bahkan sempat mengguncang dunia, akibat ulah spekulan internasional, bernama: "George Soros". Menurut para ahli dan ekonomi terkemuka, bahwa: hal ini pula sebagai faktor yang turut meluluhlantakkan ekonomi Indonesia di tahun 1997 - 1998. Rupiah jatuh/melemah, Dolar Melejit ke langit, harga-harga melonjak, rakyat semakin menderita. Terpaksa, Mahasiswa pun turun ke jalan menuntut reformasi, bahkan sempat menduduki/menguasai "Gedung Parlemen DPR - RI", sehingga pada tanggal 21 Mei 1998, di Istana Merdeka, Soeharto mengumumkan pengunduran dirinya.
Dengan suara berat, dan air mata berlinang penuh kekecewaan, ia berkata:
"...Dengan memperhatikan ketentuan Pasal 8 UUD 1945 serta memperhatikan situasi nasional, maka saya menyatakan berhenti dari jabatan Presiden Republik Indonesia....."
Beberapa menteri menunduk, dan menitikkan air mata, sebagian pula ada yang "matanya bersinar terang" pertanda tak sabar dapat jatah di Era Reformasi, pasca "Soeharto" lengser.
Suasana Ruangan, tiba-tiba "Hening".
Namun di luar, sebagian Rakyat/Mahasiswa se-Indonesia bersorak-sorai "Bergembira Penuh harap pada "Reformasi dan Supremasi Hukum" yang dijanjikan oleh politikus, ternyata itu hanyalah "FRANK" dan "HOAK" mulai dari tahun 1998 - sekarang (27 Tahun Silam).
Jika pada waktu itu bulan MEI 1998, banyak "Gembira" di liput media dari berbagai stasiun TV Pemerintah dan koran-koran nasional/daerah, lebih banyak lagi yang senang bergembira, terutama dari mereka TAPOL GESTAPU (Tahanan Politik G30S PKI) beserta keluarga yang selama ini terbelenggu karir/hidup dan terkungkung hak politik serta stigma masyarakat selama 32 tahun dibawah kekuasaan Presiden SOEHARTO. Akhirnya sejarah mencatat, bahwA: sang penguasa yang begitu kuat akhirnya menyerah pada tekanan zaman oleh kelompok politikus yang pintar cari momentum (waktu yang tepat: Krisis ASIA) terkenal dengan istilah "KRISMON" (Krisis Moneter).
Tapi dibalik semua itu, bagian adapula yang diam-diam, yang masih cinta dan sayang pada pak Harto, kagum akan Kepemimpinan melalui GBHN dan REPELITA, yang tidak di liput TV, tidak di muat di Koran, "tunduk termenung ragu" akan masa depan bangsa, akibat pintu Reformasi terbuka lebar yang membuat orang-orang "jor-joran" dan "gontok-gontokan" menjarah kue 🍰 Reformasi, sekuat tenaga dan sesuka hati.
Kemudian, beliau meninggalkan istana tanpa drama besar, minim pengawalan, terdiam, sederhana, seperti ketika dulu ia datang dari sawah.
I. Kisah di Akhir Hayat / Warisan
Setelah lengser, Soeharto menjalani masa senja di Cendana, Jakarta. Ia jarang tampil di publik, lebih banyak berobat karena sakit. Beliau adalah Presiden yang Pertama kali, "Mengundurkan Diri" , secara Ksatria sebagai ala Jawani: "Lengser Keprabon". Sudah ada berapa jumlah penggantinya, hingga kini, "Sejarah Indonesia", menanti-nanti Jiwa Ksatria, Pemimpin Pusat/Daerah untuk "Legowo Lengser keprabon". Tapi pada kenyataannya , meskipun ia "Gatot" Gagal Total malahan ia maju kembali mencalonkan diri.
Setelah 10 tahun berlalu Pak Harto "Lengser Keprabon" (Pasca Reformasi), hasil signifikan "minim bukti keberhasilan", malahan lebih buruk dari sebelumnya, terutama di dunia pendidikan, pertanian, perekonomian dan jabatan pemerintahan. Sehingga pada akhirnya tepat pada tanggal 27 Januari 2008, Soeharto wafat di Jakarta, beliau diupacarakan secara besar ala militer, ia dimakamkan di Astana Giribangun, Solo, berdampingan dengan istrinya, Tien Soeharto. Hingga kini, warisan Soeharto tetap menjadi perdebatan. Sebagian mengenangnya sebagai Bapak Pembangunan, simbol stabilitas, dan pemimpin tegas. Sebagian lain mengingatnya sebagai sosok otoriter yang membungkam demokrasi dan menumbuhkan KKN.
Sejarah menempatkan mantan Presiden SOEHARTO, sebagai figur dengan dua wajah: sebagai Bapak Pembangunan dan penguasa kontroversial, bahkan ororiter.
===💓Terima Kasih🇲🇨==Hormat Santun
Dari saya: 🙏🏻 RENDI (Panglima 05)🦜





Komentar
Posting Komentar