"...Gejolak Politik 1965, terangkum pula "Kisah Pranoto sebagai Pengganti (sementara) Panglima AD Ahmad Yani, berikut kisah perjalanan hidupnya, yang dituduhkan (gosip) terlibat G30S PKI, lalu di Penjara 15 Tahun..."
Pranoto Reksosamodra, lahir di Surakarta (Jawa Tengah) tahun 1920, dia adalah salah satu perwira TNI Angkatan Darat yang dikenal profesional dan moderat. Namanya sempat mencuat sebagai calon pengganti Panglima AD Jenderal Ahmad Yani pada peristiwa G30S 1965. Namun, dominasi politik militer dan krisis nasional membuatnya tersingkir, mengalami penahanan, dan kehilangan peluang kepemimpinan. Biografi ini menelusuri perjalanan karier dan kehidupan Pranoto dalam konteks politik-militer Indonesia yang kompleks.
A. Awal Karier Militer
Pranoto memulai karier sebagai perwira Angkatan Darat pasca-kemerdekaan Indonesia tahun 1945. Dalam era sebagai awal pembentukan TNI, ia memiliki kemampuan strategi, disiplin, dan loyalitasnya membuat karir menanjak di struktur militer. Ia menduduki beberapa posisi penting dan strategis, serta dikenal menjaga sebagai pribadi yang "jaga jarak" dari intrik politik internal TNI, ia hanya fokus pada profesionalisme dan stabilitas bagi institusi TNI-AD
B. Posisi Strategis hingga Oktober 1965
Menjelang 1965, Pranoto menjabat sebagai Wakil Kepala Staf AD. Dalam situasi ketegangan politik tinggi antara PKI dan militer, sebelum dan sesudah G30S PKI, Pranoto muncul sebagai calon pengganti Panglima AD terkuat, menggantikan Letjen Ahmad Yani, yang gugur, posisinya sebagai wakil Menteri Panglima Angkatan Darat (Wamen Pangsid) cukup logis dan sudah disetujui oleh Soekarno, sebagai Pengganti Letjen Ahmad Yani.
Akibat pola pendekatannya yang terlalu moderat, menimbulkan kekhawatiran faksi militer yang lebih radikal (Penentang PKI) sebab ia juga lebih cenderung ke para pejabat sipil, ditambal lagi adanya dominasi dari Mayjen Soeharto, yang memberikan perintah agar tidak menemui Presiden Soekarno. Dukungan perwira menengah dan perwira tinggi militer lebih cenderung mendukung Soeharto, sebagai Pangkostrad, (orang lapangan) yang memegang kendali pemulihan PKI demi keamanan dan stabilitas nasional membuat posisinya rapuh. Sementara Mayjen Pranoto, lebih banyak sebagai staf di kantor.
C. Pengganti Letjen Ahmad Yani
Setelah peristiwa Gerakan 30 September 1965 adalah beberapa calon yang diusulkan dalam rapat terbatas yang dipimpin oleh Presiden Soekarno. Nama-nama yang diusulkan sebagai pengganti Ahmad Yani antara lain Mayjen Mursjid, Mayjen Pranoto Reksosamodra, Mayjen Basuki Rachmat, Mayjen Soeharto, dan Mayjen Rukman.
C. Mayjend RANOTO: Pejabat Sementara.
Oleh karena adanya penolakan dari Mayjen Soeharto, jika Pranoto sebagai Pengganti Ahmad Yani, maka Presiden Soekarno melantik Pranoto sebagai Pejabat Sementara, tanggal 2 Oktober, lalu kemudian diberhentikan tanggal 14 Oktober (12 Hari) sangat singkat. Sebab Mayjend Soehato selalu memberitakan bahwa dirinya lah yang pantas menjadi Menteri Panglima Angkatan Darat (Menpagad) pengganti Ahmad Yani, dan selama menjabat sebagai Men-Pangad, "Mayjend Pranoto" dilarang bertemu dengan Presiden Soekarno, yang akan melantiknya menjadi Men-Pangad "menggantikan" Letjen Ahmad Yani.
Pada tanggal 16 Oktober 1965, secara resmi dilantik oleh Presiden Soekarno, dengan berdasarkan berbagai Pertimbangan dari presiden Soekarno. Adapun yang menggantikan Soeharto sebagai Pangkostrad, adalah Mayjen Umar Wirahadikusumah, Panglima Kodam Jakarta Raya (Pangdam Jaya). Proses pergantian (mutasi) ditubuh TNI, juga sebagai akhir bagi karir, Mayjen Pranoto tersingkir tidak lagi menjadi panglima definitif karena tuduhan-,tuduhan dan suasana politik saat itu, yang pada gilirannya ia dipenjarakan.
E. Pranoto tersingkir dan Dipenjarakan
Mayor jenderal Pranoto, akhirnya tersingkir dari jalur kepemimpinan AD. Ia dituduh memiliki kedekatan dengan PKI. Mayjen Pranoto digelandang masuk bui (ditahan) tanpa pengadilan resmi hingga 15 tahun lamanya. Penahanan ini sangat memukul batinnya, yang tiba-tiba terhinakan, meski itu hanya bersifat politis. Penahan Pranoto sebagai pertanda bagi posisi kuat Soehato untuk mengadakan konsolidasi di tubuh TNI-Angkatan Darat.
F. Kehidupan Pranoto: Pasca-Militer
Setelah menjalani masa tragis, sedih dan pilu selama di Penjara, ia kemudian dibebaskan, Pranoto menjalani sisa hidupnya tanpa keterlibatan politik atau militer aktif. Ia tetap dihormati sebagai perwira profesional, namun terjebak dalam turbulensi politik nasional.
G. Warisan Sejarah
Kisah Pranoto menjadi simbol perwira moderat yang tersingkir akibat dinamika politik-militer. Namanya menjadi bagian penting sejarah TNI, mengingatkan bahwa profesionalisme dan kedisiplinan "tidak selalu" menjamin keselamatan politik.
===💓Terima Kasih🇲🇨==Hormat Santun
Dari saya: 🙏🏻 RENDI (Panglima 05)🦜



Komentar
Posting Komentar