Kapten PIERRE TENDEAN
Lahir dan Latar Belakang Keluarga
Kapten Pierre Andries Tendean lahir di Jakarta pada 21 Februari 1939. Ia berasal dari keluarga dengan latar belakang budaya yang unik, yaitu campuran Minahasa, Prancis dan Belanda.
Ayahnya bernama Dr. A.L. Tendean, seorang dokter yang berasal dari Minahasa, Sulawesi Utara. Sementara ibunya adalah Maria Elizabeth Cornet, seorang wanita keturunan Belanda. Dari keluarganya inilah Pierre tumbuh sebagai pribadi yang disiplin, cerdas, dan berkarakter kuat.
Agama
Pierre Tendean dibesarkan dalam keluarga Katolik. Didikan agama dan nilai moral yang kuat menjadi pegangan hidup Pierre Tendean dalam menjalani masa muda maupun pengabdiannya di militer.
PendidikanMasa kecil dan remajanya dihabiskan di Magelang, Tendean mengenyam pendidikan dasar di Sekolah Rakyat Boton (sekarang ditempati SMP Negeri 4) di Magelang.
Pada tahun 1952, Tendean mulai belajar di SMP Negeri 1 dan kemudian pada tahun 1955 di SMA bagian B (sekarang SMA Negeri I) Magelang.
Setelah lulus SMA tahun 1958, Tendean ingin menjadi tentara, tetapi orang tuanya ingin dia menjadi dokter atau insinyur. Atas permintaan orang tuanya dia mendaftar ujian masuk di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) dan di Institut Teknologi Bandung (ITB), sehingga dia dinyatakan tidak lulus.
Melihat hasil ini, akhirnya orang tuanya memperbolehkan dia mengikuti ujian masuk Akademi Militer Nasional (AMN). Tendean dianjurkan untuk memilih satuan Zeni yang merupakan cabang teknis militer angkatan darat, supaya dia di kemudian hari mempunyai kesempatan untuk melanjutkan studi ke ITB.
Setelah diterima menjadi taruna AMN, Tendean memilih untuk masuk Akademi Teknik Angkatan Darat (ATEKAD). Tendean diterima sebagai calon taruna ATEKAD angkatan ke-6 pada bulan November 1958 dan dilantik pada tanggal 26 November 1958 di Stadion Siliwang - Bandung Jawa Barat.
Karier di Militer
Setelah resmi dilantik, menjadi perwira TNI AD, Pierre Tendean ditempatkan di Korps Zeni dan ditugaskan di Medan, Sumatra Utara. Salah satu tugas pertamanya adalah ikut serta dalam operasi menumpas pemberontakan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII).
Selama masa pendidikan militer, ia dikenal sebagai taruna yang cerdas, bersemangat, dan berdisiplin tinggi. Ia berhasil menyelesaikan pendidikan dan lulus tahun 1962 dengan pangkat Letnan Dua Korps Zeni.
Kenaikan pangkat Pierre Tendean menjadi Letnan Satu (Lettu) terjadi pada 1 April 1965, setelah bertugas menjalani beberapa misi rahasia termasuk penyusupan wilayah dalam Operasi Dwikora (Konfrontasi Indonesia-Malaysia)
Tendean banyak mengecam pendidikan intelijen, dan telah melaksanakan tugas-tugas berat, sehingga membuatnya dikenal sebagai prajurit pemberani yang siap mengemban tanggung jawab demi bangsa, tak lama setelah itu ia diangkat menjadi ajudan Jenderal A.H. Nasution,
Kepercayaan besar diberikan kepadanya pada tahun 1965, ketika ia dipilih menjadi Ajudan Jenderal AH Nasution, yang saat itu menjabat sebagai Menteri Pertahanan/ Kepala Staf Angkatan Bersenjata (KSAB), sehingga membuat Pierre Tendean banyak belajar tentang kepemimpinan dan ketegasan seorang pemimpin.
Kisah Asmara dengan RUKMINI
Setamat dari Taruna Militer, Pierre Tendean bertugas di Medan sebagai Komandan Pleton Batalyon Zeni Tempur 2 Kodam II/Bukit Barisan sekitar tahun 1962-1963, penugasan ini membuat kedekatannya dengan Jenderal AH Nasution dan pertemuan dengan kekasihnya Rukmini.
Rukmini adalah gadis bangsawan berdarah Jawa (Raden) yang lembut dan sopan, asli Yogyakarta dari keluarga Islam yang taat, dikenal salehah dan lembut, bernama lengkap Nurindah Rukmini Chamim.
Meskipun awalnya mereka sempat ragu karena perbedaan agama (Pierre Kristen, Rukmini Muslimah), namun sifat halus dan lemah lembut Rukmini membuat Pierre jatuh cinta kepadanya.
Pada tahun 1962-1963, Pierre Tendean bertemu dengan Rukmini saat ia masih SMA di Medan, saat itu Pierre bertugas di Medan. Ia berkenalan melalui temannya, akhirnya Pierre Tendean "memberanikan diri" menemui ayah Rukmini, Raden Chaimin. Kemudian Pierre dan Rukmini saling jatuh cinta.
Hubungan Jarak Jauh (1963-1965) ketika Pierre pindah tugas ke Bogor dan Jakarta (menjadi ajudan Jenderal AH Nasution), membuat hubungan mereka menjadi hubungan jarak jauh yang intensif melalui surat.
Pada 31 Juli 1965, saat mendampingi Jenderal AH Nasution ke Medan, Pierre Tendean memanfaatkan momen tersebut untuk melamar Rukmini secara resmi.
Lamaran pun diterima, dan rencana pernikahan disepakati akan digelar pada 21 November 1965. Namun rencana ini tidak terlaksana akibat adanya Penculikan yang dilakukan oleh G30S PKI, yang mengakibatkan tewas (gugurnya) Lettu Pierre Tendean, pada tanggal 01 Oktober 1965.
Akhir Hayat dalam Peristiwa G30S/PKI 1965 di Jakarta
Tragedi terjadi pada dini hari 1 Oktober 1965, ketika Gerakan 30 September/PKI melancarkan aksi penculikan terhadap para petinggi Angkatan Darat, yang dicap sebagai Dewan Jenderal oleh PKI.
Pasukan yang datang ke rumah Jenderal AH Nasution, awalnya berniat membawa sang Jenderal, namun karena pengakuan Pierre Tendean yang berada di rumah itu, bahwa dirinyalah Nasution, sehingga ia ditangkap dan dibawa/diseret oleh Cakrabirawa bersama para jenderal lain ke Lubang Buaya.
Di tempat itulah Pierre Tendean bersama enam perwira tinggi TNI AD lainnya, berakhir, mereka gugur tragis, setelah mengalami siksaan. Jenazah mereka ditemukan di sebuah sumur tua pada 4 Oktober 1965.
Meski pernikahan itu tidak terwujud dan berujung memilukan, tetapi Rukmini tulus mencintainya, dan sering-sering berziarah ke Makam Pierre Tendean. Rukmini yang belum "move on" terus harus memendam kisah cintanya kepada Pierre Tendean, hingga akhir hayatnya, ia pun meninggal pada tahun 2019 menyusul Pierre Tendean dalam keabadian.
Penghargaan dan Pengakuan
Atas jasa dan pengorbanannya, pemerintah Indonesia menganugerahkan gelar Pahlawan Revolusi kepada Pierre Tendean, dengan diberikan kenaikan Pangkat Anumerta, setingkat lebih tinggi, dari Letnan Satu menjadi Kapten (,Anumerta)
Pangkat tersebut sebagai penghargaan atas pengorbanan dan jasanya, berdasarkan Keputusan Presiden No. 110/KOTI/1965 pada 5 Oktober 1965. Ia juga ditetapkan sebagai Pahlawan Revolusi dan Pahlawan Nasional Indonesia.
Namanya kini namanya tertulis tinta emas dalam sejarah Indonesia dan diabadikan dalam berbagai bentuk penghormatan, mulai dari monumen, nama jalan, hingga sekolah-sekolah di berbagai daerah.
Warisan dan Kenangan
Kapten Pierre Tendean dikenang sebagai sosok perwira muda yang ganteng dan gagah serta penuh idealisme, keberanian, dan kesetiaan.
Meski usianya baru 26 tahun ketika gugur, pengorbanannya menjadi teladan bagi generasi penerus bangsa tentang arti pengabdian tanpa pamrih kepada tanah air.
Pada tahun 2009, ia diangkat menjadi "PAHLAWAN NASIONAL"

Komentar
Posting Komentar