"....Tragedi Berdarah yang Menggores Luka Bangsa Indonesia, dari Sumur Soco Magetan hingga Sumur Lubang Buaya...."
Sejarah Indonesia tidak hanya berisi tentang kisah kepahlawanan melawan penjajah, tetapi juga perjuangan melawan bangsa sendiri (PKI) yang menggores lembaran kelam ketika sesama anak bangsa saling menghunus senjata. Sejarah mencatat, PKI telah melakukan serangkaian aksi pemberontakan dan pembantaian yang merenggut ratusan ribu nyawa (1927 - 1965). Dari jeritan yang terperangkap di dalam sumur tua Magetan (dikubur hidup-hidup), hingga jasad jenderal yang dilemparkan ke sumur tua di Lubang Buaya, sejarah ini menjadi peringatan bahwa ambisi politik tanpa nurani hanya menyisakan duka, menyengsarakan anak negeri, korban jiwa bukan hanya dari militer, tapi juga dari Anggota Kepolisian (Brimob - POLRI).
![]() |
| KS TUBUN |
PKI pertama kali memberontak melawan pemerintah Belanda. Aksi bersenjata di Banten, Jakarta, Bandung, hingga Sawah Lunto (Sumatera) memakan korban ratusan orang, bahkan ribuan. Sebanyak 13.000 orang ditangkap, dan lebih dari 1.300 dibuang ke Boven Digul – penjara alam penuh malaria yang menjadi kuburan hidup bagi banyak tahanan.
Dipimpin Musso dan Amir Sjarifoeddin, PKI melancarkan pemberontakan di Madiun, Magetan, Ponorogo, hingga Blora. Ulama, santri, pejabat desa, hingga rakyat kecil dibantai tanpa ampun. Sumur Soco -Magetan menjadi saksi bisu ratusan korban yang dilempar hidup-hidup masuk ke sumur. Catatan resmi menyebut sekitar 18.000–24.000 jiwa tewas, pada peristiwa itu, Seorang saksi berkata lirih: “Jeritan itu masih terdengar… suara mereka yang belum mati ketika dilemparkan ke sumur.”
3. Lubang Buaya : G30S PKI 1965
Malam 30 September 1965, sekelompok militer yang dikaitkan dengan PKI menculik dan membunuh 7 jenderal Angkatan Darat, seorang perwira muda, dan seorang anggota Polri. Tubuh mereka yang penuh luka siksaan ditemukan dalam sumur tua Lubang Buaya, Jakarta Timur. Di Yogyakarta,
Kolonel Katamso , dan Letkol Sugiyono juga menjadi korban. Total 10 perwira militer gugur. Tragedi ini menorehkan luka yang tak pernah benar-benar sembuh.
Selain Madiun dan Lubang Buaya, kekerasan yang dikaitkan dengan PKI juga terjadi di Jawa Tengah, Sumatera Utara, hingga Bali. Ratusan tokoh agama, lurah, dan rakyat kecil dibunuh diam-diam. Semua meninggalkan jejak teror yang menakutkan.
5. Rangkuman "Perkiraan" Jumlah Korban:
1926–1927: Ratusan tewas, 13.000 ditangkap, 1.300 diasingkan ke Boven Digul.
1948 (Madiun): 18.000–24.000 terbunuh.
10 Perwira militer gugur.
Korban tambahan di daerah lain:
Ratusan tokoh agama dan rakyat kecil dibantai, mesjid di acak-acak, kitab suci di injak-injak. "Astaghfirullah"
Total korban kekejaman PKI sejak 1926 hingga 1965 diperkirakan mencapai angka ratusan ribu jiwa.
Jeritan di Sumur Soco (Magetan) yang dikubur hidup-hidup. Tubuh jenderal di Lubang Buaya, diseret bagai bangkai. Jerit tangis para santri di pesantren. Semua itu bukan sekadar cerita, bukan dongeng bukan bukan hoax melainkan potongan sejarah dari sebuah kisah nyata. Tragedi kekejaman PKI, membuat luka bangsa yang harus kita kenang dan peringati, bukan untuk menumbuhkan dendam, tetapi agar kita tak lagi mengulangi kesalahan yang sama, sebagai Noda hitam sejarah Indonesia.


Komentar
Posting Komentar