"...Disamping kekhilafan mereka, ternyata ada beberapa prestasi yang pernah terukir darinya untuk negeri ini, khususnya di bidang "Kemiliteran", sebagai bagian dari perjuangan kemerdekaan Indonesia. Mereka juga "Cinta Tanah Air" cuma salah jalan...."
1. Brigjen Soepardjo Lahir pada 23 Maret 1923 di Gombong, Jawa Tengah, adalah seorang perwira tinggi TNI-AD yang memiliki karier militer yang solid dan cemerlang. Jabatan dan Prestasi Militer Utama, sebagai Komandan Divisi Kalimantan Barat, ia memimpin operasi militer penting, termasuk dalam Konfrontasi Indonesia-Malaysia (dikenal sebagai Operasi Dwikora). Ia bertanggung jawab atas Komando Tempur Dwikora di Kalimantan, di mana pasukannya berhasil menjaga pertahanan wilayah perbatasan dan melakukan serangan strategis terhadap pasukan Malaysia yang didukung Inggris. Prestasi ini menjadikannya salah satu panglima tempur yang disegani, dengan catatan sukses dalam menjaga stabilitas wilayah strategis di Kalimantan Barat. Panglima Komando Tempur II Mandala Siaga (Kolaga): Pada 1965, sebuah unit operasi militer khusus yang dibentuk untuk menghadapi ancaman dari luar negeri (eksternal). Oleh karena ia berpendidikan tinggi dan latihan di berbagai negara, serta berpengetahuan luas, maka ia disebut sebagai "perwira pengembara" karena mobilitasnya dalam tugas-tugas strategis. Soepardjo sebagai "jenderal terhormat" digambarkan sebagai "highly decorated military officer" (perwira militer yang sangat dihiasi penghargaan) oleh sebuah sumber sejarah. Dia adalah perwira tertinggi yang penuh dengan pengakuan atas prestasi tempur dan kepemimpinan di militer. Meskipun detail medali spesifik tidak selalu tercantum secara eksplisit dalam dokumen primer, namun reputasinya di TNI didasarkan pada kontribusi dalam operasi Dwikora (Malaysia - Indonesia) dan sebagai pertahanan Kalimantan. Ia pernah mendapat penghargaan "Bintang Gerilya" atau Satyalancana Kebaktian Sosial Militer.2. Kolonel Abdul Latief
Adalah tentara TNI AD (Perwira menengah) yang lahir di Surabaya dan memiliki karir militer pasca-kemerdekaan, termasuk melawan pemberontakan regional seperti DI/TII dan PRRI. Meski masih muda (19 tahun) sudah bergabung dengan SEINENDAN serta PETA di Jawa Timur.
Jejak Militer Pasca-Kemerdekaan, Latief bertempur di Surabaya dan Jawa Tengah, termasuk hadir pada Serangan Umum 1 Maret 1949 di bawah pimpinan Soeharto. Dia juga pernah memimpin satuan melawan Andi Azis, Kahar Muzakar di Sulawesi Selatan, RMS (Maluku/Ambon) Batalyon 426, Darul Islam, dan PRRI Permesta. Pada konfrontasi Malaysia, ia menjadi Komandan Brigade I Kodam Jaya di bawah pimpinan Umar Wirahadikusumah.
3. Letkol Untung Sutopo
(Letkol Untung Sutopo bin Syamsuri)
Lahir: 3 Juli 1926 di Desa Sruni, Kedungbajul, Kebumen, Jawa Tengah; Dia sempat menjadi anak didik Jenderal Soeharto di Resimen 15 Solo, setelah ia menjadi lulusan terbaik di Akademi Militer (Akmil) di Semarang, ia satu angkatan dengan Leonardus Benny Moerdani (L.B Moerdani). Selanjutnya, Letkol Untung Syamsuri dipindah-tugaskan ke Cepogo dekat Gunung Merbabu. Pasca-Peristiwa Madiun 1948, ia mengubah nama dari Kusman menjadi Untung Sutopo untuk membersihkan diri dari tuduhan keterlibatan pemberontakan PKI di Madiun, meskipun dia seorang militer tapi tertarik pada pemikiran tokoh PKI seperti Alimin. Kemudian, Untung Sutopo bertugas di berbagai kesatuan, sebagai Komandan Kompi Batalyon 444 dan Komandan Batalyon 454 Banteng Raiders di Srondol, Semarang. Prestasi Untung terfokus pada Operasi Trikora (perebutan Irian Barat dari Belanda, 1961–1962), di mana ia berkontribusi signifikan sebagai perwira Angkatan Darat, dan mendapatkan penghargaan dari Pemerintah. Kemudian Ia, bertugas di bawah Panglima Mandala Mayjen Soeharto dan berpartisipasi selama sebulan hingga gencatan senjata yang diminta Presiden Soekarno pada 1962. Prestasi ini diakui sebagai arsitek sukses operasi, yang mengembalikan Irian Barat ke Indonesia dan memperkuat kedaulatan nasional.
4. MAYOR SOEJONO
Lahir : pada 9 Mei 1928 di Tulungagung, Jawa Timur, dan memulai karir militernya di masa akhir pendudukan Jepang. pada periode revolusi kemerdekaan dan pembangunan militer awal:
Pendidikan dan Pelatihan di PETA (Pembela Tanah Air): Pada awal 1945, di usia 17 tahun, Widjojo Soejono meninggalkan sekolahnya karena semangat kemerdekaan yang membara di masyarakat. Ia mengikuti Latihan Perwira Tentara Sukarela PETA di Bogor. Prestasinya dalam pelatihan ini membuatnya dipromosikan dari bintara menjadi perwira pertama (setara Shoodancho) pada 1 Juni 1945. Setelah lulus, ia ditempatkan di Batalyon 4 Karesidenan Malang, di mana ia berlatih dan mempersiapkan diri untuk perjuangan melawan penjajah. Pembentukan Badan Keamanan Rakyat (BKR) Pasca-Proklamasi: Dua hari setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945, PETA dibubarkan. Soejono segera bergabung dengan seniornya, Soehardjo, untuk membentuk Badan Keamanan Rakyat (BKR) sebagai "Cikal bakal lahirnya militer Indonesia) di HBS Straat (sekarang Jalan Wijaya Kusuma dalam menjaga keamanan dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia dari ancaman pasca-proklamasi, termasuk konflik dengan sisa pasukan Jepang dan sekutu (NICA)
5. LETTU DUL ARIEF
adalah seorang perwira militer Angkatan Darat (AD), memiliki kontribusi dalam Perang Kemerdekaan dan Pembentukan TNI (1945–1949). Dul Arief bergabung dengan pasukan nasionalis sesaat setelah Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, saat masih berusia remaja. Ia terlibat dalam upaya merebut aset militer Jepang di wilayah Jawa Tengah, termasuk melucuti senjata pasukan Jepang di Magelang. Selama Agresi Militer Belanda I (1947) dan II (1948–1949), Dul Arief bertugas sebagai prajurit infanteri di Batalyon Banteng Raiders, unit gerilya yang dikenal tangguh di Jawa Tengah. Ia ikut dalam operasi sabotase dan pertahanan wilayah, termasuk Serangan Umum 1 Maret 1949 di Yogyakarta, yang menjadi pukulan telak bagi Belanda dan mempercepat pengakuan kedaulatan Indonesia melalui Konferensi Meja Bundar (KMB) 1949. Intinya, dia punya peranan dalam Penumpasan Pemberontakan Internal (1950-an–1960-an) Pada era Demokrasi Liberal dan Guided Democracy, Dul Arief naik pangkat menjadi Letnan Satu dan bergabung dengan Batalyon 530 di Jawa Timur, di mana ia terlibat dalam operasi melawan pemberontakan regional seperti Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) di Jawa Timur dan Nusa Tenggara. Ia memimpin pasukan dalam misi pengintaian dan penangkapan anggota pemberontak, yang membantu memadamkan ancaman disintegrasi nasional yang dipimpin tokoh seperti Kahar Muzakkar. Kontribusi ini krusial untuk menjaga persatuan bangsa pasca-kemerdekaan, di mana DI/TII telah menewaskan ratusan prajurit TNI .Pada pertengahan 1964, atas rekomendasi Pangkostrad Jenderal Soeharto, Dul Arief dipilih untuk bergabung dengan Resimen Tjakrabirawa, pasukan elit pengawal Presiden Soekarno yang dibentuk untuk melindungi pemimpin negara dari ancaman kudeta atau pemberontakan. Setelah peristiwa G30S PKI Dul Arief dilaporkan "hilang"—diduga dieksekusi oleh intelijen seperti Ali Moertopo tanpa proses yang hukum jelas. Akhir hidupnya masih tetap misterius, dengan spekulasi ia menjadi "pion hilang" dalam konspirasi yang lebih besar.
Hitam Putih Sejarah Indonesia:
Tidak selamanya Pejuang Negeri ini "Putih Mulus" namun terkadang ada "Noda Hitam"
====💓Terima Kasih🇲🇨====
$emoga bermanfaat, bila ada pertanyaan / "Kritik", 👍atau ide-saran, masukan yang berguna, bagi kita semua.👓 Dipersilahkan untuk, ✍️menulis di kolom komentar yang tersedia. Kami tunggu ya..? Hormat Santun
Dari saya: 🙏🏻 RENDI (Panglima 05)🦜



Komentar
Posting Komentar