Langsung ke konten utama

AH Nasution dari Kopral jadi Jenderal (Besar)

Jenderal (Besar) TNI Abdul Haris Nasution (A.H. Nasution) adalah salah satu tokoh militer paling sentral, terkenal dan terkenang dalam perjalanan sejarah Indonesia. Tokoh Nasional yang pantas menjadi Presiden Republik Indonesia, namun ia menyadari dirinya bukan orang Jawa, ia juga hampir menjadi Korban keganasan G30S PKI. Namun yang menjadi korban adalah Pierre Tendean (sang ajudan) dan Ade Irma Suryani (putrinya). Beliau hanya memiliki 2 putri, maka tersisa adalah YANTI (Putri Sulung)


Beliau dikenal pribadi yang kuat pada prinsipnya jika itu menyangkut kepentingan bangsa dan negara. Dia pula sering berseberangan dengan Presiden RI-1 (Soekarno) pada jaman orde lama, demikian pula dengan Presiden RI-2 (Soeharto) pada jaman orde baru. Namun ia juga salah satu kunci "SUPSERSEMAR" (Surat Perintah Sebelah Maret) yang dijadikan dasar olehnya melantik Letjen Soeharto, sebagai PeNjabat Presiden (sementara) untuk menggantikan Presiden sebelumnya (Soeharto). Bahkan sebelum melantik Soeharto, dia pula yang memberikan kendaraan KOTI untuk mendesak Presiden agar pemulihan keamanan negara dan stabilitas politik dipegang oleh Soeharto, pasca G30S PKI, sehingga menjadi jalan mulus bagi Soeharto untuk menduduki Kursi Presiden ke-2 di Republik ini.Sepak terjang di berbagai medan tempur dan jabatan strategis yang membentuk Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan politik bangsa, juga sebagai peletak dasar strategi pertahanan Indonesia dan ahli di bidang perang. Beliau dikenal sebagai konseptor Perang Gerilya, yang merumuskan doktrin Perang Gerilya (Gerilya Totaliter) sebagai strategi pertahanan rakyat semesta, di mana kekuatan sipil dan militer bersatu dalam menghadapi musuh yang lebih kuat. Gagasannya diabadikan dalam buku terkenalnya, Pokok-Pokok Gerilya (Fundamentals of Guerrilla Warfare), yang bahkan dijadikan buku wajib di akademi militer sejumlah negara, dan untuk di dalam negeri AH Nasution juga menggalang kekuatan seluruh potensi bangsa dalam berbagai bidang terutama DWI KORA (Malaysia) dan TRI KORA (Irian Barat).

Jabatan di Militer : 


- 1940 : Masuk Akademi Militer berpangkat KOPRAL kemudian menjadi SERSAN 

1942 : Menjadi Laskar PETA 

1945 : Menjadi Prajurit TKR 

1946 : Komandan Divisi Siliwangi 

1947 - 1948 : Melawan Agresi militer Belanda 

1948 : Menumpas PKI Madiun, Gerilyawan PDRI Sumatera, dan Wakil Panglima TKR.

1948 - 1949 : Memimpin MBKD 
          Markas Besar Komandan Djawa 

1949 - 1952 : Menumpas pemberontakan                    DI/TII, APRA dan RMS (Republik  Maluku  Selatan)

1952 : Diberhentikan sebagai KASAD, sebagai akibat peristiwa 17 Oktober 1952

1952 - 1955 : Lowong ----nihil------ 

1962 : KSAB (Wakil Pangkoti) untuk Pembebasan Irian Barat dalam operasi TRI KORA (Tiga Komando Rakyat) 

1959 - 1966 : Menko HanKam , sekaligus sebagai penggagas utama/terdepan "Dwi Fungsi ABRI", yang dirintisnya sejak tahun1958, namun resminya pada tahun 1966, melalui Tap MPRS Nomor: XXIV/1966

1966 - 1972 : Ketua MPRS ($ementara) dan ketua MPR - RI 

1997 : Mendapatkan Penghormatan dan penghargaan dari Negara, sebagai "Jenderal Besar" oleh Presiden RI ke-2 (mantan anak buah yang hampir dipecatnya.

Lolos dari G30S/PKI (1965): Beliau merupakan salah satu jenderal target utama yang berhasil selamat dari upaya penculikan dan pembunuhan oleh Gerakan 30 September. 

Sebagai konseptor Dwifungsi ABRI, mencakup peran ganda ABRI (sebagai kekuatan pertahanan dan sosial-politik).

Ketua MPRS (Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara): Diangkat pada tahun 1966, beliau berperan sentral dalam masa transisi ke Orde Baru, termasuk memimpin sidang yang mencabut mandat Presiden Soekarno.

A.H. Nasution dianugerahi pangkat kehormatan Jenderal Besar TNI Bintang Lima pada tahun 1997, menjadikannya salah satu dari tiga tokoh militer yang meraih pangkat tersebut, yaitu: Jenderal Soedirmann, Jenderal Soeharto, dan Jenderal AH Nasution. 

===💓Terima Kasih🇲🇨==Hormat Santun 

Dari saya: 🙏🏻 RENDI (Panglima 05)🦜

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kisah SOEHARTO: dari Sawah Kemusuk, Tumpas PKI jadi Presiden, hingga "Lengser Keprabon" 1998

"... Kisah panjang perjalanan hidup Jenderal Besar H. M. Soeharto — dari anak petani desa kemusuk- Jogjakarta yang pemalu hingga sukses jadi presiden paling lama memimpin Indonesia selama 32 tahun...."   Soeharto adalah salah satu tokoh paling berpengaruh dalam sejarah Indonesia modern. Lahir di sebuah desa kecil bernama Kemusuk, Yogyakarta, ia tumbuh dalam kesederhanaan, jauh dari gemerlap kota, dan gelimangan harta, apalagi kekuasaan orangtuanya. Namun takdir membawanya menapaki jalan panjang: dari seorang bocah sawah yang pemalu, menjadi prajurit militer, lalu menjadi Jenderal Besar, hingga akhirnya menjadi " Presiden Republik Indonesia ke-2  (1967- 1998), s elama hampir 32 tahun ia memimpin negeri ini dalam era yang disebut Orde Baru. Namanya dikenang sebagai Bapak Pembangunan, tetapi juga meninggalkan kontroversi besar. Inilah kisah panjang, penuh drama, tentang perjalanan hidup Soeharto — dari sawah Kemusuk hingga detik-detik lengser pada 1998. A.  Latar Belakang:...

Mayjen PRANOTO: Pengganti Ahmad Yani, dilarang ketemu Soekarno, lalu "Dipenjara" 15 Tahun

". ..Gejolak Politik 1965, terangkum pula "Kisah Pranoto sebagai Pengganti (sementara) Panglima AD Ahmad Yani, berikut kisah perjalanan hidupnya, yang dituduhkan (gosip) terlibat G30S PKI, lalu di Penjara 15 Tahun..." Pranoto Reksosamodra, lahir di Surakarta (Jawa Tengah) tahun 1920, dia adalah salah satu perwira TNI Angkatan Darat yang dikenal profesional dan moderat. Namanya sempat mencuat sebagai calon pengganti Panglima AD Jenderal Ahmad Yani pada peristiwa G30S 1965. Namun, dominasi politik militer dan krisis nasional membuatnya tersingkir, mengalami penahanan, dan kehilangan peluang kepemimpinan. Biografi ini menelusuri perjalanan karier dan kehidupan Pranoto dalam konteks politik-militer Indonesia yang kompleks. A.  Awal Karier Militer        Pranoto memulai karier sebagai perwira Angkatan Darat pasca-kemerdekaan Indonesia tahun 1945. Dalam era sebagai awal pembentukan TNI, ia memiliki kemampuan strategi, disiplin, dan loyalitasnya membuat karir menanja...

3 Nama "Penumpas" G30S PKI: SOEHARTO, SARWO, NASUTION

"... Sejarah kelam bangsa Indonesia, akibat terjadinya pengkhianatan melalui G30S/PKI 1965. Disebut "Pengkhianatan" karena dilakukan oleh beberapa tokoh nasional Indonesia,  Pejabat Negara (Menteri/Wakil menteri) serta sejumlah oknum militer (TNI)... "  Peristiwa G30S/PKI merupakan tragedi besar dalam sejarah Indonesia modern, yang masih berusia "20 tahun Merdeka". Peristiwa itu, terjadi pada malam 30 September 1965, dimana Partai Komunis Indonesia (PKI) melancarkan gerakan militer yang menargetkan pucuk pimpinan Angkatan Darat, dengan memakai istilah "Dewan Jenderal" yang mengakibatkan " Tujuh Perwira" menjadi korban dalam peristiwa keji tersebut. Namun, gerakan itu hanya bertahan singkat karena dalam hitungan hari, kekuatan militer di bawah kendali Mayor Jenderal Soeharto, didukung Kolonel Sarwo Edhie Wibowo dan Jenderal A.H. Nasution, berhasil menumpasnya. Dari tragedi itu, lahir babak baru sejarah Indonesia yang dikenal sebagai O...