Langsung ke konten utama

2 Prestasi Besar Sarwo Edhie: G30S PKI '65 dan PEPERA PAPUA '69

Biografi Jenderal Sarwo Edhie Wibowo
Sarwo Edhie Wibowo adalah seorang tokoh militer legendaris Indonesia yang lahir di Purworejo, Jawa Tengah, pada 25 Juli 1925 (beberapa sumber lain menyebut 1927).

A.  Latar Belakang Keluarga

Sarwo Edhie Wibowo adalah putra dari R. Kartowilogo, yang pada masa penjajahan Belanda bekerja sebagai Kepala Rumah Gadai atau Kepala Pajak di Purworejo, dan ibunya bernama Raden Ayu Sutini. Kedua orangtuanya adalah "keturunan ningrat Jawa."

Pada tahun 1949, ia menikahi Sunarti Sri Hadiyah binti Danu Sunarto. Dari pernikahan ini, dikaruniai 7 tujuh anak, di antaranya:
Kristiani Herrawati (yang kemudian menjadi Ibu Negara sebagai istri Presiden Susilo Bambang Yudhoyono)
- Pramono Edhie Wibowo (yang juga meraih pangkat Jenderal dan menjabat sebagai Kepala Staf Angkatan Darat). 

B.  Jenjang Pendidikan dan Latihan

Sarwo Edhie menempuh pendidikan dasar di HIS dan melanjutkan ke MULO serta SMA. Karir militernya dimulai pada masa pendudukan Jepang, di mana ia sempat menjadi prajurit Heiho dan kemudian mengikuti pendidikan militer calon bintara PETA (Pembela Tanah Air). Setelah kemerdekaan, ia melanjutkan pendidikannya, termasuk mengambil kursus militer di luar negeri seperti Infantry Officer Advanced Course di Fort Benning, Amerika Serikat, dan General Staff College di Australia.

C.  Karier Militer dan Pemerintahan

Komandan Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD), yang kini dikenal sebagai Komando Pasukan Khusus (Kopassus), pada periode 1964–1967. Pangdam II/BB (Sumatera), Pangdam Cenderawasih (Irian Barat) Gubernur Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (AKABRI) di Magelang dari 1970 hingga 1974, Duta Besar Indonesia untuk Korea Selatan (1974–1978) dan Ketua Badan Pengawas Pemilihan Umum (BP-7) Pusat.

D.  Prestasi Besar yang pernah di ukir 

      Sarwo Edhie, telah banyak berjasa dalam perjalanan bangsa ini, dan ada dua "Prestasi Besar", yang telah diukir indah dalam lembaran sejarah Indonesia, yaitu Penumpasan G30S PKI 1965 dan integrasi Rakyat Irian Barat melalui "PEPERA" Pemungutan Pendapat Rakyat, pada tahun 1969, yaitu:

1). Tokoh Kunci dalam G30S/PKI 1965


Saat itu, ia menjabat sebagai Komandan RPKAD dengan pangkat Kolonel, ketika para Jenderal Angkatan Darat diculik, oleh pasukan Tjakrabirswa, Sarwo Edhie segera merespons cepat perintah dari Mayor Jenderal Soeharto (Pangkostrad) untuk memulihkan keamanan. Ia berhasil merebut kembali Gedung RRI dan Telekomunikasi di Jakarta dari tangan pasukan G30S/PKI dalam waktu singkat, untuk mencegah propaganda dari pemberontak, kemudian ia memimpin operasi militer "Pembersihan", untuk menumpas basis-basis PKI di daerah-daerah yang rawan, khususnya di Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Bali. Operasi penumpasan yang dipimpinnya ini diakui memiliki dampak besar dalam transisi kekuasaan dari Orde Lama ke Orde Baru, untuk menyelamatkan Indonesia dari rongrongan ideologi/paham komunis yang nyata-nyata tidak sesuai dengan ideologi negara, yaitu : "Pancasila".

2).  Operasi Wibawa PEPERA, 1969

Bulan Juni 1968, Sarwo Edhie resmi menjabat Panglima Cenderawasih, ia dilantik untuk mengantisipasi kedatangan utusan khusus PBB, Fernando Ortiz Sanz di bulan Agustus 1968 yang akan meninjau penyelenggaraan Pepera. Di Irian Barat (Irian Jaya - "Papua"). Sarwo Edhie mengadakan peningkatan jumlah pasukan, dan serangkaian operasi militer pun digelar meliputi operasi tempur, teritorial, dan intelijen. Presiden Soeharto kala itu, telah merumuskan tujuan Pepera untuk IRIAN (Papua) sedangkan Menteri Dalam Negeri Mayjend Amir Machmud merancang strategi pemenangan. Kepada Amir Machmud, Soeharto berpesan agar Pepera jangan sampai gagal. “Artinya, harus diusahakan jangan sampai wilayah Irian Barat terlepas lagi dari kekuasaan Republik Indonesia,” kata Amir Machmud dalam otobiografi H. Amir Machmud: "Prajurit Pejuang".

Sementara di lapangan, Sarwo Edhie didapuk sebagai Ketua Proyek Pelaksana Daerah bersama Jenderal Ali Murtopo selaku spesialis operasi khusus. Sarwo Edhie sebagai Panglima Kodam Cenderawasih adalah penguasa tertinggi di Irian Barat. Dia (Sarwo) bertanggung jawab penuh atas gagal atau suksesnya Pepera. Untuk itu, “Sarwo Edhie" segera tampil secara publik sebagai pelaksana yang supel dari garis yang sudah ditunjukan Presiden Soeharto,” kata sejarawan Belanda Pieter Drooglever dalam Tindakan Pilihan Bebas!: Orang Papua dan Penentuan Nasib Sendiri. 

E.  Sikap yang Perlu Diteladani

Sikap utama yang patut diteladani dari Sarwo Edhie Wibowo adalah kecepatan, kecerdasan, keberanian, ketegasan, disiplin, integritas dan kesetiaan pada negara.  Sarwo Edhie tampil menunjukkan kepemimpinan yang tegas dan mengambil tindakan cepat untuk bangsa dan negara. Selain itu, kesederhanaan hidupnya bersama istrinya juga mencerminkan mentalitas seorang pejuang sejati, suami setia sekaligus ayah yang bertanggungjawab pada putra-putrinya.

F. Kesimpulan

Sarwo Edhie Wibowo adalah patriot sejati yang memainkan peran fundamental dalam menanggulangi krisis G30S/PKI 1965, sekaligus komandan lapangan, suksesnya integrasi IRIAN BARAT 1969, lalu berubah menjadi IRIAN JAYA, kini bernama "PAPUA".

===💓Terima Kasih🇲🇨==Hormat Santun 

Dari saya: 🙏🏻 RENDI (Panglima 05)🦜

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kisah SOEHARTO: dari Sawah Kemusuk, Tumpas PKI jadi Presiden, hingga "Lengser Keprabon" 1998

"... Kisah panjang perjalanan hidup Jenderal Besar H. M. Soeharto — dari anak petani desa kemusuk- Jogjakarta yang pemalu hingga sukses jadi presiden paling lama memimpin Indonesia selama 32 tahun...."   Soeharto adalah salah satu tokoh paling berpengaruh dalam sejarah Indonesia modern. Lahir di sebuah desa kecil bernama Kemusuk, Yogyakarta, ia tumbuh dalam kesederhanaan, jauh dari gemerlap kota, dan gelimangan harta, apalagi kekuasaan orangtuanya. Namun takdir membawanya menapaki jalan panjang: dari seorang bocah sawah yang pemalu, menjadi prajurit militer, lalu menjadi Jenderal Besar, hingga akhirnya menjadi " Presiden Republik Indonesia ke-2  (1967- 1998), s elama hampir 32 tahun ia memimpin negeri ini dalam era yang disebut Orde Baru. Namanya dikenang sebagai Bapak Pembangunan, tetapi juga meninggalkan kontroversi besar. Inilah kisah panjang, penuh drama, tentang perjalanan hidup Soeharto — dari sawah Kemusuk hingga detik-detik lengser pada 1998. A.  Latar Belakang:...

Mayjen PRANOTO: Pengganti Ahmad Yani, dilarang ketemu Soekarno, lalu "Dipenjara" 15 Tahun

". ..Gejolak Politik 1965, terangkum pula "Kisah Pranoto sebagai Pengganti (sementara) Panglima AD Ahmad Yani, berikut kisah perjalanan hidupnya, yang dituduhkan (gosip) terlibat G30S PKI, lalu di Penjara 15 Tahun..." Pranoto Reksosamodra, lahir di Surakarta (Jawa Tengah) tahun 1920, dia adalah salah satu perwira TNI Angkatan Darat yang dikenal profesional dan moderat. Namanya sempat mencuat sebagai calon pengganti Panglima AD Jenderal Ahmad Yani pada peristiwa G30S 1965. Namun, dominasi politik militer dan krisis nasional membuatnya tersingkir, mengalami penahanan, dan kehilangan peluang kepemimpinan. Biografi ini menelusuri perjalanan karier dan kehidupan Pranoto dalam konteks politik-militer Indonesia yang kompleks. A.  Awal Karier Militer        Pranoto memulai karier sebagai perwira Angkatan Darat pasca-kemerdekaan Indonesia tahun 1945. Dalam era sebagai awal pembentukan TNI, ia memiliki kemampuan strategi, disiplin, dan loyalitasnya membuat karir menanja...

3 Nama "Penumpas" G30S PKI: SOEHARTO, SARWO, NASUTION

"... Sejarah kelam bangsa Indonesia, akibat terjadinya pengkhianatan melalui G30S/PKI 1965. Disebut "Pengkhianatan" karena dilakukan oleh beberapa tokoh nasional Indonesia,  Pejabat Negara (Menteri/Wakil menteri) serta sejumlah oknum militer (TNI)... "  Peristiwa G30S/PKI merupakan tragedi besar dalam sejarah Indonesia modern, yang masih berusia "20 tahun Merdeka". Peristiwa itu, terjadi pada malam 30 September 1965, dimana Partai Komunis Indonesia (PKI) melancarkan gerakan militer yang menargetkan pucuk pimpinan Angkatan Darat, dengan memakai istilah "Dewan Jenderal" yang mengakibatkan " Tujuh Perwira" menjadi korban dalam peristiwa keji tersebut. Namun, gerakan itu hanya bertahan singkat karena dalam hitungan hari, kekuatan militer di bawah kendali Mayor Jenderal Soeharto, didukung Kolonel Sarwo Edhie Wibowo dan Jenderal A.H. Nasution, berhasil menumpasnya. Dari tragedi itu, lahir babak baru sejarah Indonesia yang dikenal sebagai O...