Biografi Jenderal Sarwo Edhie Wibowo
Sarwo Edhie Wibowo adalah seorang tokoh militer legendaris Indonesia yang lahir di Purworejo, Jawa Tengah, pada 25 Juli 1925 (beberapa sumber lain menyebut 1927).
A. Latar Belakang Keluarga
Sarwo Edhie Wibowo adalah putra dari R. Kartowilogo, yang pada masa penjajahan Belanda bekerja sebagai Kepala Rumah Gadai atau Kepala Pajak di Purworejo, dan ibunya bernama Raden Ayu Sutini. Kedua orangtuanya adalah "keturunan ningrat Jawa."
Pada tahun 1949, ia menikahi Sunarti Sri Hadiyah binti Danu Sunarto. Dari pernikahan ini, dikaruniai 7 tujuh anak, di antaranya:
- Kristiani Herrawati (yang kemudian menjadi Ibu Negara sebagai istri Presiden Susilo Bambang Yudhoyono)
- Pramono Edhie Wibowo (yang juga meraih pangkat Jenderal dan menjabat sebagai Kepala Staf Angkatan Darat).
B. Jenjang Pendidikan dan Latihan
Sarwo Edhie menempuh pendidikan dasar di HIS dan melanjutkan ke MULO serta SMA. Karir militernya dimulai pada masa pendudukan Jepang, di mana ia sempat menjadi prajurit Heiho dan kemudian mengikuti pendidikan militer calon bintara PETA (Pembela Tanah Air). Setelah kemerdekaan, ia melanjutkan pendidikannya, termasuk mengambil kursus militer di luar negeri seperti Infantry Officer Advanced Course di Fort Benning, Amerika Serikat, dan General Staff College di Australia.
C. Karier Militer dan Pemerintahan
Komandan Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD), yang kini dikenal sebagai Komando Pasukan Khusus (Kopassus), pada periode 1964–1967. Pangdam II/BB (Sumatera), Pangdam Cenderawasih (Irian Barat) Gubernur Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (AKABRI) di Magelang dari 1970 hingga 1974, Duta Besar Indonesia untuk Korea Selatan (1974–1978) dan Ketua Badan Pengawas Pemilihan Umum (BP-7) Pusat.
D. Prestasi Besar yang pernah di ukir
Sarwo Edhie, telah banyak berjasa dalam perjalanan bangsa ini, dan ada dua "Prestasi Besar", yang telah diukir indah dalam lembaran sejarah Indonesia, yaitu Penumpasan G30S PKI 1965 dan integrasi Rakyat Irian Barat melalui "PEPERA" Pemungutan Pendapat Rakyat, pada tahun 1969, yaitu:
1). Tokoh Kunci dalam G30S/PKI 1965
Saat itu, ia menjabat sebagai Komandan RPKAD dengan pangkat Kolonel, ketika para Jenderal Angkatan Darat diculik, oleh pasukan Tjakrabirswa, Sarwo Edhie segera merespons cepat perintah dari Mayor Jenderal Soeharto (Pangkostrad) untuk memulihkan keamanan. Ia berhasil merebut kembali Gedung RRI dan Telekomunikasi di Jakarta dari tangan pasukan G30S/PKI dalam waktu singkat, untuk mencegah propaganda dari pemberontak, kemudian ia memimpin operasi militer "Pembersihan", untuk menumpas basis-basis PKI di daerah-daerah yang rawan, khususnya di Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Bali. Operasi penumpasan yang dipimpinnya ini diakui memiliki dampak besar dalam transisi kekuasaan dari Orde Lama ke Orde Baru, untuk menyelamatkan Indonesia dari rongrongan ideologi/paham komunis yang nyata-nyata tidak sesuai dengan ideologi negara, yaitu : "Pancasila".
2). Operasi Wibawa PEPERA, 1969
Bulan Juni 1968, Sarwo Edhie resmi menjabat Panglima Cenderawasih, ia dilantik untuk mengantisipasi kedatangan utusan khusus PBB, Fernando Ortiz Sanz di bulan Agustus 1968 yang akan meninjau penyelenggaraan Pepera. Di Irian Barat (Irian Jaya - "Papua"). Sarwo Edhie mengadakan peningkatan jumlah pasukan, dan serangkaian operasi militer pun digelar meliputi operasi tempur, teritorial, dan intelijen. Presiden Soeharto kala itu, telah merumuskan tujuan Pepera untuk IRIAN (Papua) sedangkan Menteri Dalam Negeri Mayjend Amir Machmud merancang strategi pemenangan. Kepada Amir Machmud, Soeharto berpesan agar Pepera jangan sampai gagal. “Artinya, harus diusahakan jangan sampai wilayah Irian Barat terlepas lagi dari kekuasaan Republik Indonesia,” kata Amir Machmud dalam otobiografi H. Amir Machmud: "Prajurit Pejuang".
Sementara di lapangan, Sarwo Edhie didapuk sebagai Ketua Proyek Pelaksana Daerah bersama Jenderal Ali Murtopo selaku spesialis operasi khusus. Sarwo Edhie sebagai Panglima Kodam Cenderawasih adalah penguasa tertinggi di Irian Barat. Dia (Sarwo) bertanggung jawab penuh atas gagal atau suksesnya Pepera. Untuk itu, “Sarwo Edhie" segera tampil secara publik sebagai pelaksana yang supel dari garis yang sudah ditunjukan Presiden Soeharto,” kata sejarawan Belanda Pieter Drooglever dalam Tindakan Pilihan Bebas!: Orang Papua dan Penentuan Nasib Sendiri.
E. Sikap yang Perlu Diteladani
Sikap utama yang patut diteladani dari Sarwo Edhie Wibowo adalah kecepatan, kecerdasan, keberanian, ketegasan, disiplin, integritas dan kesetiaan pada negara. Sarwo Edhie tampil menunjukkan kepemimpinan yang tegas dan mengambil tindakan cepat untuk bangsa dan negara. Selain itu, kesederhanaan hidupnya bersama istrinya juga mencerminkan mentalitas seorang pejuang sejati, suami setia sekaligus ayah yang bertanggungjawab pada putra-putrinya.
F. Kesimpulan
Sarwo Edhie Wibowo adalah patriot sejati yang memainkan peran fundamental dalam menanggulangi krisis G30S/PKI 1965, sekaligus komandan lapangan, suksesnya integrasi IRIAN BARAT 1969, lalu berubah menjadi IRIAN JAYA, kini bernama "PAPUA".
===💓Terima Kasih🇲🇨==Hormat Santun
Dari saya: 🙏🏻 RENDI (Panglima 05)🦜

.jpg)
Komentar
Posting Komentar