Di ujung pulau yang berbentuk Huruf "K", terdapat sebuah Kota, yaitu Kota Makassar, didalamnya ada seorang Gadis Pemberani --Cantik Muda Belia, ia bernama : "Emmy Saelan," perempuan muda Makassar yang pemberani, memilih "Gugur terhormat" di medan perang Sulawesi Selatan melawan pasukan Belanda.
Sejarah perjuangan bangsa Indonesia tidak hanya dipenuhi oleh tokoh laki-laki, tetapi juga ada perempuan tangguh yang gagah berani mengangkat senjata. Salah satu di antaranya adalah "Emmy Saelan", srikandi asal Makassar yang namanya harum semerbak sebagai pejuang revolusi, dari kaum hawa. Emmy Saelan di usia sangat muda, ia memilih jalan terhormat: bertempur hingga akhir, untuk melawan pasukan NICA Belanda. Kisahnya menjadi simbol bahwa perempuan Indonesia mampu berdiri sejajar dengan laki-laki dalam medan juang. Meski sebaliknya adapula lelaki yang menjadi "Pecundang" bahkan Pengkhianat di Negeri ini.
Pembahasan tentang EMMY SAELAN:
Emmy Saelan (nama lahir Salmah Soehartini Saelan) adalah salah satu pahlawan perempuan Indonesia yang lahir pada 15 Oktober 1924 di Makassar, Sulawesi Selatan. Ia dikenal sebagai perawat dan pejuang yang berperan aktif dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia dari agresi Belanda pada periode 1945–1949.
A. Latar Belakang Keluarga :
Emmy merupakan anak pertama dari delapan bersaudara. Ayahnya, bernama "Amin Saelan", adalah tokoh pergerakan Taman Siswa di Makassar dan penasihat organisasi pemuda. Organisasi Taman Siswa didirikan oleh Ki Hajar Dewantara.
Emmy Saelan memiliki adik Kandung, bernama Mauwy Saelan, juga dikenal sebagai pejuang dan pernah menjadi pengawal setia Presiden Soekarno.
.
Mauwy Saelan, adalah Ajudan kesayangan Presiden Soekarno, namun tragisnya ia di penjara oleh Soeharto, tanpa proses pengadilan.
Kolonel (CPM) Mauwy Saelan, menjabat sebagai Wakil Komandan Cakrabirawa (pasukan pengamanan presiden) pada tahun 1965, dari kesatuan Corps Polisi Militer (CPM). Beliau adalah adik kandung "Emmy".
B. Riwayat Pendidikan "EMMY"
Emmy Saelan, menyelesaikan pendidikan medisnya pada tahun 1945 dan mulai bekerja sebagai perawat di Rumah Sakit Stella Maris di Makassar. Pada saat itu, Indonesia baru saja "Merdeka" memproklamirkan kemerdekaannya, sementara situasi politik Indonesia mulai memanas, termasuk Sulawesi karena dengan kedatangan pasukan Sekutu yang menamakan dirinya NICA mendukung Belanda (bersekutu dengan Belanda).
C. Peran dalam Perjuangan Kemerdekaan
Emmy Saelan tidak hanya berperan sebagai perawat, tetapi juga aktif dalam perlawanan bersenjata. Pada tahun 1946, ia bergabung dengan Laskar Pemberontak Rakyat Indonesia Sulawesi (Lapris) yang dipimpin oleh Ranggong Daeng Romo. Dalam laskar ini, ia turut memanggul senjata dan berperang melawan pasukan Belanda. Selain itu, Emmy juga terlibat dalam aksi pemogokan pegawai/karyawan di Rumah Sakit "Stella Maris" sebagai bentuk protes terhadap penangkapan Gubernur Sulawesi, yaitu Sam Ratulangi, oleh Belanda. Sebagai akibat dari aksinya, lalu ia dipindahkan (mutasi) ke bagian konsultan dada di rumah sakit tersebut .
D. Api Perlawanan Sulawesi Selatan
Setelah Proklamasi 17 Agustus 1945, tidak tinggal diam menghadapi atas kembalinya Belanda melalui NICA. Mereka menyaksikan kekejaman Westerling dan tentaranya yang menebar teror, membantai rakyat tak berdosa. Dari sinilah lahir perlawanan gigih para pemuda dan laskar rakyat. Di antara para pejuang, berdiri seorang perempuan muda penuh keberanian: Emmy Saelan seorang Gadis Cantik - Makassar. Ia lebih memilih angkat senjata, bukan sekadar menjadi penonton, ataupun bersolek didepan cermin. Bersamanya ada tokoh pemberani lainnya, yaitu: Robert Wolter Monginsidi, Ranggong Daeng Romo, Maulwi Saelan, dan Kapten Usman Djafar.
E. "Emmy" gugur sebagai Pahlawan
Pada 21 Januari 1947, Emmy Saelan bersama pasukan Laskar Harimau Indonesia pimpinan Wolter Monginsidi bertempur melawan pasukan KNIL di Tidung, Makassar. Dalam pertempuran tersebut, banyak pejuang yang gugur dan terluka. Monginsidi meminta Emmy untuk membawa para korban ke Kassi-Kassi, Rappocini, Makassar. Dalam perjalanan, mereka diserang oleh pasukan Belanda. Hanya dirinya seorang yang tersisa, sehingga Pihak Belanda meminta ia menyerah saja. Namun ia menolak, sehingga dalam situasi terdesak, Emmy Saelan, memilih untuk meledakkan granat yang dibawanya, mengorbankan nyawanya dan menewaskan 8 (delapan) tentara Belanda .
Gugur terhormat di Medan Juang
Emmy Saelan, ia bukan hanya sebagai perawat atau kurir biasa, akan tetapi juga petarung garis terdepan di Medan Perang. Ia berlatih menembak, mengatur strategi, dan memberi semangat kepada para pemuda².
Robert Wolter Monginsidi pernah menyebutnya:
“Emmy Saelan adalah Srikandi muda Pejuang Sulawesi. Keberaniannya menyalakan semangat kami sebagai lelaki untuk tidak pernah tunduk dan terus melawan pada Belanda.”
Bahkan Ranggong Daeng Romo juga menegaskan, bahwa:
“Ia perempuan, tetapi jiwanya Lelaki prajurit. Emmy tidak pernah gentar menghadapi dentuman senjata.”
G. Kronologi Perlawanan Pemuda dan Pejuang di Sulawesi Selatan 1945–1949
Untuk memahami konteks gugurnya Emmy Saelan, berikut alur singkat perlawanan rakyat Sulawesi Selatan melawan NICA:
1945 – 1946: Setelah Proklamasi, Belanda melalui NICA berusaha kembali menguasai Makassar dan sekitarnya. Rakyat setempat segera membentuk laskar-laskar perjuangan.
1946 – 1947: Belanda melakukan operasi militer besar-besaran, dibarengi teror oleh "Westerling" dengan “pembersihan kampung” yang menewaskan ribuan rakyat sipil. Di saat inilah perlawanan gerilya dipimpin tokoh-tokoh muda seperti Wolter Monginsidi, Ranggong Daeng Romo, terutama "Emmy Saelan" seorang "SRIKANDI MUDA" Makassar.
Terjadi : Pertempuran Bulurokeng
Emmy Saelan" gugur terhormat sebagai Kusuma Bangsa setelah ia menolak menyerah kepada pasukan NICA (Belanda). Hal ini membuat Pasukan NICA "Kalang Kabut". Sedangkan pada pertempuran lain, di waktu berdekatan Kapten Usman Djafar juga gugur. Dari 40 pasukan yang dipimpinnya, seluruhnya gugur, hanya tinggal "Emmy" seorang diri, yang tersisa. Kemudian Pasukan Belanda memerintahkan dirinya (Emmy) untuk menyerah, tetapi ia tetap menolak. Dengan sisa granat di tangannya, ia melemparkannya ke arah musuh. Belanda pun bergelimpangan, namun "Emmy Saelan" turut gugur dengan cara terhormat, di medan perang yang membesarkan namanya.
Tahun 1948: Gerilya masih terus dilakukan meski pasukan rakyat makin terdesak.
Tahun 1949: Robert Wolter Monginsidi akhirnya tertangkap, diadili, dan dieksekusi mati oleh Belanda. Perlawanan rakyat Sulawesi Selatan tetap menyala hingga akhirnya Belanda menyerahkan kedaulatan Indonesia melalui Konferensi Meja Bundar (KMB Den Haag).
I. Para Pejuang Sebayanya
Wolter Monginsidi terus berjuang hingga akhirnya ditangkap dan dieksekusi Belanda pada 1949, begitu pula "Ranggong Daeng Romo" gugur di medan perang, meninggalkan nama besar sebagai pemuda bangsawan yang menyerahkan hidup-matinya untuk rakyat. Tak ketinggalan pula ", Kapten Usman Djafar" pun gugur dalam pertempuran itu. Sedangkan "Maulwi Saelan, adik Emmy," yang meneruskan perjuangan dengan pengabdian sebagai prajurit dan ia pernah menjadi "Kiper/Penjaga Gawang" legendaris untuk, Tim Nasional Indonesia.
J. Penghargaan dan Legasi.
Gugurnya Emmy Saelan seorang Srikandi dari Makassar, ini menjadi inspirasi abadi. Hal ini membuktikan bahwa perempuan Indonesia sanggup berkorban setara dengan laki-laki demi bangsa. Kini, namanya dikenang lewat Jalan Emmy Saelan di Makassar, serta sebuah monumen yang berdiri di tempat ia gugur. Adapula usulan untuk membuat patung "Emmy Saelan" namun ditolak dengan sopan oleh pihak keluarga "karena alasan" keyakinan, sehingga cukuplah monumen itu menjadi "tanda bakti" bagi srikandi pemberani ini. Sebagai penghormatan atas jasa-jasanya, pemerintah Indonesia menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada Emmy Saelan. Kemudian membangun Monumen untuk mengenang perjuangannya didirikan pada tahun 1972 dan direnovasi pada tahun 1985. Selain itu, nama Emmy Saelan diabadikan sebagai nama jalan di hampir seluruh kabupaten dan kota di Sulawesi Selatan.
K. Refleksi dan Pelajaran
Keberanian dan kepahlawanan "Emmy Saelan" mengajarkan kita tentang arti/makna keberanian, pengorbanan, dan cinta tanah air yang sejati. Ia meninggalkan pesan bahwa kemerdekaan tidak datang begitu saja, melainkan dibayar dengan darah dan nyawa. Maulwi Saelan pernah berkata tentang kakaknya, bahwa:
“Kakakku Emmy itu, bukan hanya pahlawan bagi Makassar, tetapi pahlawan bagi setiap perempuan Indonesia. Ia membuktikan bahwa wanita pun bisa memilih mati terhormat di medan juang.”
Bagi generasi muda, kisah ini adalah pengingat untuk menjaga persatuan, tidak mudah menyerah, dan terus berjuang dengan cara-cara mulia di era modern.
==💓Terima Kasih🇲🇨==Hormat Santun
Dari saya: 🙏🏻 RENDI (Panglima 05)🦜



Komentar
Posting Komentar