Langsung ke konten utama

YANTI (kakak): ADE IRMA SURYANI NASUTION

"...Kisah Hidup traumatis, Perjuangan, dedikasi dan Warisan Sosial dari Putri Sulung Jenderal A.H. Nasution, satu-satunya yang masih hidup...."

   Hendrianti Sahara Nasution (Yanti

Lahir sebagai putri sulung Jenderal Besar A.H. Nasution. Hidupnya merupakan saksi bisu dari salah satu peristiwa paling "kelam dan kejam" dalam sejarah Indonesia, yakni insiden G30S/PKI pada 30 September 1965. Biografi ini menelusuri perjalanan hidup Yanti, sebagai saksi langsung yang terjadi di rumahnya ketika ia masih duduk di bangku SMP Kelas 2. Mari kita mencoba menelusuri (jajaki) mulai dari masa kecil hingga wafatnya pada 2021,

A. Latar Belakang Keluarga 
           Hendrianti Sahara Nasution (Yanti) lahir sekitar tahun 1952 sebagai putri sulung dari pasangan Jenderal Besar A.H. Nasution dan Johanna Sunarti. Sejak kecil, Yanti yang cantik jelita, tumbuh dalam lingkungan disiplin militer, namun rendah hati tidak sombong apalagi pamer. Misalnya: "Seandainya bukan bapak saya berjuang kalian semua sudah jadi apa?.
$ama sekali tidak pernah terucap ataupun terbersit didalam hati YANTI, meskipun ia juga korban (saksi langsung G30S PKI), malahan ia sering memuji "Kapten Pierre Tendean" jika ketemu keluarga Pierre Tendean, dengan mengatakan: "..... Bang Pierre Tendean itu, ganteng loh orangnya, andai bukan dia, kami ngga bisa bayangkan keadaan keluarga kami seperti apa...." 
Mungkin maksudnya, begini: "jika seandainya, Kapten Pierre Tendean berkhianat, bisa jadi gerombolan prajurit tjakrabirawa, tetap mencari AH Nasution dan membawanya ke lubang buaya, seperti korban-korban lainnya, atau jika Kapten Pierre Tendean, tidak mengaku sebagai AH Nasution, mungkin saja mereka semakin mengamuk dan menambah korban selain Ade Irma Suryani Nasution. Itu hanya dugaan atas makna yang tersirat dari ucapan Yanti mengenai kepribadian dan kesetiaan ajudan pribadi ayahandanya (AH Nasution). Meski tragedi yang membuat ia trauma atas desing peluru ke setiap sudut ruangan, dan membuat ia patah pinggul, membuatnya cacat seumur hidup (pincang jika berjalan), tapi kalau tidak berjalan "tidak kelihatan" kalau beliau "Pincang". Namun Yanti tidak pernah mengungkit jasa-jasa orang tuanya. Malahan sepanjang hidupnya ia selalu berkata: "Kami tidak ada dendam dengan anak-anak PKI". bahkan Yanti adalah salah satu penggagas rekonsiliasi antara pelaku dan korban PKI.
       Kehidupan keluarga Nasution di Jakarta sejak masa awal kemerdekaan menempatkan Yanti dalam situasi unik, menyaksikan dinamika politik, militer, tragedi berdarah G30S PKI, yang membentuk karakter tegar bagai karang dan tetap peduli dan empati terhadap sesama. Beliau memiliki hubungan dengan Universitas Sumatera Utara (USU - Medan), tempat kelahiran Ayahanda tercinta (AH Nasution) 

2. Malam 30 September 1965: 
    Titik Balik Hidup YANTI NASUTION 
    (Kakak dari: Ade Irma Suryani Nasution)
       Malam itu, salah satu peristiwa yang menentukan perjalanan hidup bagi Yanti Nasution, hampir menemui ajal seperti adiknya yang masih polos dan lugu. Malam yang naas itu, pak Nas, yang tidak naas (berhasil lolos) dari serangan pasukan G30S/PKI di kediaman keluarga pada malam 30 September 1965. Sekitar pukul 03.30 dini hari, pasukan menyerbu rumah mereka di Jalan Teuku Umar, Menteng, Jakarta. Ayahnya, Jenderal A.H. Nasution, menjadi target utama penculikan, namun berhasil melarikan diri. Peristiwa ini menimbulkan trauma mendalam bagi Yanti, karena adik kesayangannya "Ade Irma Suryani Nasution",


menjadi korban penembakan, dan menjalani perawatan intensif di RSPAD Gatot Subroto selama 5 (hari) akhirnya "Ade Irma Suryani" meninggal dunia. Meski luka "menganga" pada tubuh kecil mungilnya, Ade Irma Suryani, masih sempat berkata pada ibunya, "...Mama... kenapa ayah mau dibunuh..? Kenapa ya ma...? Demikian ucap polos dari gadis kecil yang belum paham Politik. Kepada "Yanti" sang kakak yang memeluknya meraung meratapi kecelakaan adiknya. ADE IRMA, berkata: "...Kakak jangan sedih, jangan nangis ya,, kak.? 
Yanti sendiri mengalami 'Shock' dan cedera fisik akibat melarikan diri, termasuk cedera pinggul yang membuatnya berjalan pincang seumur hidup. Peristiwa ini membentuk karakter hidupnya: tegar, peduli, dan berkomitmen pada kebenaran sejarah, "sejarah perlu diluruskan" 

3. YANTI menikah ♥️ Edward Nurdin

          Edward Nurdin adalah perwira AURI, yang tampan rupawan, menikahi ♥️ Yanti Nasution yang berparas cantik dan anggun,  namun karir Edward Nurdin selalu tersendat-sendat akibat lingkungan politik sang mertua (AH Nasution) yang keras menentang Soeharto, demi bangsa dan negara, yang menurutnya baik, sehingga sering bersebelahan pendapat dengan Soeharto Presiden ke-2. Hal yang sama juga sering dilakukan oleh AH Nasution kepada Soekarno Presiden Pertama RI (Sang Proklamator). Atas gejolak politik yang menimpa keluarga AH Nasution, akhirnya suami Yanti (Edward Nurdin) dipecat dari kesatuan Angkatan Udara, sebagai efek domino "Petisi 50" termasuk didalamnya Laksamana Ali Sadikin (mantan Gubernur Jakarta, yang melegenda). Kemudian, Edward Nurdin, bekerja di Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN - Bandung). Beliau Edward Nurdin, yang menikahi putri Jenderal AH Nasution yang juga Jenderal Besar di Republik ini. 

         Perkawinan YANTI dengan Nurdin, pada tanggal 18 Desember 1970, melahirkan 4 (empat) orang, salah satu diantaranya ada yang menikah dengan cucu "Jenderal Besar Soedirman" yang dikenal dengan nama: "JENDERAL SOEDIRMAN" 

Keempat Putri tersebut, antara lain: 

1.  Eka Trismi Edihan Pinurbo, 

2.  Marisa Edhyana Garden, 

3.  Mariana Edi Antinutrisi, 

4.  Fitria Edyani Mute. 

.       Bagaimana kehidupan keluarga YANTI sekeluarga, Pasca peristiwa 1965, Yanti menyalurkan kepedulian sosialnya melalui berbagai kegiatan. Ia dikenal aktif dalam pengelolaan yayasan sosial yang fokus pada pendidikan, bantuan lansia, dan terapi bicara. Beberapa yayasan yang dikelolanya antara lain Yayasan Kasih Ade dan Klinik Speech Therapy. Putri sulung Yanti, bernama (Eka Trisni) aktif di "Mesjid Cut Meutia), Gondangdia-Menteng Jakpus. Mesjid itu sebelah Utara tempat kediaman AH Nasution tahun 1965 (kira-kira hanya berjarak 100 meter dari Gedung MNC TV (Koran Sindo) kearah selatan, namun jika berangkat dari Gedung Soraya Intercinema Film (gang disampingnya) lurus tembus ke "Mesjid Cut Meutia", nah... diseberang jalan, akan nampak "bekas rumah kediaman " AH Nasution, dikala peristiwa G30S PKI 1965 terjadi. Selain daripada itu, Yanti Nurdin, juga menjalankan usaha kecil-kecilan seperti distribusi minuman ringan. Meskipun sederhana, kegiatan ini menunjukkan kemampuan Yanti untuk mandiri dan tetap produktif, sembari mempertahankan nilai-nilai keluarga dan pengabdian sosial di tengah masyarakat. Sebagai saksi sejarah, Yanti sering tampil dalam wawancara dan rekaman video, menceritakan pengalaman hidup pribadi dan keluarga selama peristiwa 1965, sebagai "Saksi Langsung". Setiap kali dalam wawancara "selalu" menekankan betapa pentingnya bagi generasi muda memahami sejarah bangsa, khususnya terkait G30S/PKI.

5. Pandangan dan Kesaksian Sejarah

        Yanti Nasution dikenal sebagai pengingat sejarah. Dalam wawancara, ia menekankan kewaspadaan terhadap potensi kebangkitan PKI dan pentingnya generasi muda mengenal sejarah. Namun, Yanti juga menegaskan keluarganya tidak menyimpan dendam, menunjukkan kedewasaan emosional dan kematangan berpikir. Video kesaksiannya merekam pengalaman pribadi Yanti saat malam 30 September 1965, termasuk bagaimana keluarganya selamat dan dampak emosional yang dirasakan. Yanti juga mendukung pemutaran film dokumenter sejarah sebagai media edukasi generasi muda kini dan yang akan datang.

6. Kehidupan Pribadi dan Keluarga

        Yanti menikah dengan Edward Nurdin, melahirkan 4 orang putri, salah satu menikah dengan cucu dari Panglima Besar Jenderal Soedirman  namun detail mengenai anak-anak atau keturunan (sengaja) tidak dipublikasikan. Kehidupan pribadinya (suami dan anaknya) cenderung tertutup, mereka lebih banyak aktif berdedikasi pada kegiatan sosial dan pengarsipan sejarah keluarga. Kehadiran Yanti sebagai putri sulung membawa tanggung jawab besar dalam keluarga sekaligus menjaga warisan sejarah dan nilai-nilai ayahnya.

7. Kesehatan dan Wafat

         Dalam beberapa tahun terakhir, Yanti mengalami masalah kesehatan, khususnya terkait ginjal. Kondisi ini akhirnya membawanya meninggal dunia pada 18 Juni 2021 di RS Pusat Pertamina, Jakarta. Usianya diperkirakan 69 tahun. Kematian Yanti menjadi kehilangan besar bagi keluarga, masyarakat sosial, dan publik yang mengenal kontribusinya sebagai saksi sejarah dan pegiat sosial.

8. Arsip Primer dan Dokumentasi Sejarah:

8.1 Video Kesaksian

Kesaksian Putri Jenderal A.H. Nasution (Peristiwa 65)

Yanti berbagi pengalaman pribadi, dampak emosional, dan fisik dari serangan 30 September 1965.

8.2 Wawancara / Artikel

Terkait Isu Kebangkitan PKI, Putri Jenderal Nasution: Tetap Harus Waspada

Yanti Nasution: Keluarga Kami tak Menaruh Dendam pada PKI

8.3 Foto Keluarga

Potret Keluarga Jenderal A.H. Nasution (1965)

8.4 Museum

Museum Jenderal A.H. Nasution, Menteng, Jakarta

Menyimpan koleksi yang berkaitan dengan perjuangan Jenderal Nasution dan keluarga, termasuk sejarah hidup Yanti.

9. Warisan dan Pesan Hidup

Yanti Nasution meninggalkan warisan sebagai saksi sejarah, pegiat sosial, dan pengingat sejarah nasional. Kisah hidupnya mengajarkan ketegaran, kesabaran, dan pentingnya memahami sejarah untuk membangun generasi yang sadar akan masa lalu. Dedikasinya pada kegiatan sosial dan pengarsipan sejarah menjadikannya figur yang dihormati, baik dalam lingkup keluarga maupun masyarakat luas.

===💓Terima Kasih🇲🇨==Hormat Santun 

Dari saya: 🙏🏻 RENDI (Panglima 05)🦜

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kisah SOEHARTO: dari Sawah Kemusuk, Tumpas PKI jadi Presiden, hingga "Lengser Keprabon" 1998

"... Kisah panjang perjalanan hidup Jenderal Besar H. M. Soeharto — dari anak petani desa kemusuk- Jogjakarta yang pemalu hingga sukses jadi presiden paling lama memimpin Indonesia selama 32 tahun...."   Soeharto adalah salah satu tokoh paling berpengaruh dalam sejarah Indonesia modern. Lahir di sebuah desa kecil bernama Kemusuk, Yogyakarta, ia tumbuh dalam kesederhanaan, jauh dari gemerlap kota, dan gelimangan harta, apalagi kekuasaan orangtuanya. Namun takdir membawanya menapaki jalan panjang: dari seorang bocah sawah yang pemalu, menjadi prajurit militer, lalu menjadi Jenderal Besar, hingga akhirnya menjadi " Presiden Republik Indonesia ke-2  (1967- 1998), s elama hampir 32 tahun ia memimpin negeri ini dalam era yang disebut Orde Baru. Namanya dikenang sebagai Bapak Pembangunan, tetapi juga meninggalkan kontroversi besar. Inilah kisah panjang, penuh drama, tentang perjalanan hidup Soeharto — dari sawah Kemusuk hingga detik-detik lengser pada 1998. A.  Latar Belakang:...

Mayjen PRANOTO: Pengganti Ahmad Yani, dilarang ketemu Soekarno, lalu "Dipenjara" 15 Tahun

". ..Gejolak Politik 1965, terangkum pula "Kisah Pranoto sebagai Pengganti (sementara) Panglima AD Ahmad Yani, berikut kisah perjalanan hidupnya, yang dituduhkan (gosip) terlibat G30S PKI, lalu di Penjara 15 Tahun..." Pranoto Reksosamodra, lahir di Surakarta (Jawa Tengah) tahun 1920, dia adalah salah satu perwira TNI Angkatan Darat yang dikenal profesional dan moderat. Namanya sempat mencuat sebagai calon pengganti Panglima AD Jenderal Ahmad Yani pada peristiwa G30S 1965. Namun, dominasi politik militer dan krisis nasional membuatnya tersingkir, mengalami penahanan, dan kehilangan peluang kepemimpinan. Biografi ini menelusuri perjalanan karier dan kehidupan Pranoto dalam konteks politik-militer Indonesia yang kompleks. A.  Awal Karier Militer        Pranoto memulai karier sebagai perwira Angkatan Darat pasca-kemerdekaan Indonesia tahun 1945. Dalam era sebagai awal pembentukan TNI, ia memiliki kemampuan strategi, disiplin, dan loyalitasnya membuat karir menanja...

3 Nama "Penumpas" G30S PKI: SOEHARTO, SARWO, NASUTION

"... Sejarah kelam bangsa Indonesia, akibat terjadinya pengkhianatan melalui G30S/PKI 1965. Disebut "Pengkhianatan" karena dilakukan oleh beberapa tokoh nasional Indonesia,  Pejabat Negara (Menteri/Wakil menteri) serta sejumlah oknum militer (TNI)... "  Peristiwa G30S/PKI merupakan tragedi besar dalam sejarah Indonesia modern, yang masih berusia "20 tahun Merdeka". Peristiwa itu, terjadi pada malam 30 September 1965, dimana Partai Komunis Indonesia (PKI) melancarkan gerakan militer yang menargetkan pucuk pimpinan Angkatan Darat, dengan memakai istilah "Dewan Jenderal" yang mengakibatkan " Tujuh Perwira" menjadi korban dalam peristiwa keji tersebut. Namun, gerakan itu hanya bertahan singkat karena dalam hitungan hari, kekuatan militer di bawah kendali Mayor Jenderal Soeharto, didukung Kolonel Sarwo Edhie Wibowo dan Jenderal A.H. Nasution, berhasil menumpasnya. Dari tragedi itu, lahir babak baru sejarah Indonesia yang dikenal sebagai O...