Tanggal 18 September,
adalah hari yang yang melukiskan dua wajah berbeda dalam sejarah Indonesia, yaitu Surabaya dan Madiun, (keduanya berada di provinsi Jawa Timur).
Momen 18 September, di kota Surabaya, para pemuda bangkit dengan keberanian luar biasa. Mereka berdiri di garis depan, menolak segala bentuk penindasan diatas alam kemerdekaan yang baru saja di proklamasi sebulan lalu di Jakarta, tepatnya 17 Agustus 1945, oleh Bung Karno dan Bung Hatta.
Akibat pengibaran bendera di Hotel Yamato - Surabaya, maka para pemuda dan mahasiswa dengan jiwa yang membara, mereka rela mempertaruhkan nyawa demi tegaknya Republik. Hal ini dibuktikan oleh pemuda/mahasiswa Surabaya, 2 (dua) bulan setelah pengibaran bendera, tepatnya 10 Nopember 1945, Kota Surabaya luluhlantak, hingga kini di sebut SURABAYA KOTA PAHLAWAN, membuktikan bahwa api patriotisme tak pernah padam, bahkan di tengah ancaman yang menegangkan.
Namun, di Madiun, cerita berbeda justru terjadi. Pemberontakan PKI pecah, pada tahun 1948, yang menorehkan luka yang memilukan. Saudara melawan saudara, rakyat terpecah, dan darah tertumpah bukan untuk melawan penjajah, melainkan sesama anak bangsa. Harapan akan persatuan sempat tercabik oleh ambisi dan pengkhianatan. Sejarah mencatat Madiun dengan rasa kecewa, sebagai pengingat betapa rapuhnya bangsa jika persatuan dikhianati.
Bagi saya, Surabaya dan Madiun adalah dua cermin yang saling melengkapi. Dari Surabaya kita belajar arti keberanian, tekad, dan pengorbanan. Dari Madiun kita belajar bahwa perpecahan hanya melahirkan penderitaan. Keduanya memberi pesan yang sama pentingnya: Indonesia hanya bisa berdiri kokoh bila kita setia pada persatuan dan cita-cita kemerdekaan.
===💓Terima Kasih🇲🇨==Hormat Santun
Dari saya: 🙏🏻 RENDI (Panglima 05)🦜
Komentar
Posting Komentar