Antara jiwa Patriotisme Pemuda Surabaya dan Perjuangan upah Buruh.
Dua Wajah Cinta Tanah Air
Jiwa patriotisme dalam mempertahankan negara adalah spirit yang mengalir kuat dalam setiap tetes darah para pejuang dan rakyat Indonesia. Patriotisme itu, bukan hanya soal rela berkorban di medan pertempuran fisik, tetapi juga tertanam dalam "perjuangan" sehari-hari membangun dan mempertahankan kedaulatan bangsa, tidak merugikan orang lain dan tidak mengkhianati negaranya.
Dalam konteks masa kini, semangat itu tampak jelas dalam perjuangan kelompok pekerja atau buruh.
Buruh adalah pilar penting dalam perekonomian dan pembangunan bangsa.
Mereka kerap menghadapi tantangan berat: mulai dari upah yang layak, kondisi kerja yang adil, hingga jaminan sosial yang kurang memadai. Di balik keringat dan jerih payahnya, tersimpan bentuk cinta tanah air—kesetiaan untuk terus berkontribusi kepada kemajuan bangsa dan salah satu sumber pendapatan bagi negara, terutama para pekerja migran, meski hidup mereka sering kali tidak diperlakukan adil.
Perjuangan buruh dalam memperjuangkan hak-haknya sesungguhnya adalah tugas dari para wakil rakyat (dewan) yang pernah merogoh kantong suara buruh, terutama mereka yang pernah menebar janji palsu "kampanye" karena memperjuangkan hak_hak buruh, merupakan manifestasi nyata dari segi "patriotisme modern". Dengan kata lain, memperjuangkan kesejahteraan dan keadilan di lingkungan kerja, buruh turut menjaga stabilitas sosial dan ketahanan ekonomi nasional. Mereka menjadi penjaga benteng ekonomi negara agar tetap kokoh, sehingga bangsa dapat terus maju dan berkembang.
Jika dulu para pahlawan melawan penjajahan fisik melawan penjajah asing, maka buruh hari ini berjuang melawan “penjajahan modern” oleh penguasa dari bangsanya sendiri, berupa ketidakadilan sosial, ekonomi, dan politik. Patriotisme tidak selalu tentang mengangkat senjata, melainkan juga tentang keberanian melawan penindasan dalam bentuk apa pun.
Seperti yang pernah diucapkan Bung Karno:
> “Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai tenaga kerja dan keringat rakyatnya sendiri.”
Kata-kata itu mengingatkan kita bahwa kemerdekaan sejati tidak hanya ditentukan oleh kedaulatan politik, tetapi juga oleh penghormatan pada rakyat kecil yang bekerja keras membangun negeri.
Oleh karena itu, menghubungkan jiwa patriotisme dengan perjuangan nasib buruh adalah pengingat bahwa mempertahankan negara tidak hanya terjadi di medan pertempuran, tetapi juga di arena sosial dan ekonomi. Perjuangan mereka adalah wujud nyata cinta tanah air—cinta yang memperjuangkan keadilan sosial demi masa depan bangsa yang lebih baik dan berkeadaban.
Semangat inilah yang harus terus kita dukung dan angkat sebagai bagian dari narasi kebangsaan yang inklusif, adil, dan berjiwa besar.
===💓Terima Kasih🇲🇨==Hormat Santun
Dari saya: 🙏🏻 RENDI (Panglima 05)🦜
Komentar
Posting Komentar