Jalan Kramat JAKARTA
Sebuah Kisah di Balik Dinding Gedung Tua yang Melahirkan Ikrar Persatuan Bangsa. Di tengah hiruk-pikuk Batavia kolonial tahun 1928, ada sebuah rumah sederhana di Jalan Kramat Raya Nomor 106. Bangunannya tak megah, tapi di sanalah sejarah besar bangsa Indonesia dimulai. Bangunan itu milik Etnis Thionghoa, yang telah berjasa menuju Indonesia, yang bersatu padu dibawah "Sumpah Pemuda".
Pada akhir Oktober tahun itu, para pemuda dari berbagai penjuru Nusantara datang berkumpul. Mereka datang bukan dengan senjata, melainkan dengan semangat persatuan. Mereka hadir penuh gembira, di ruangan yang tak seberapa luas itu, lahirlah ikrar suci yang menggetarkan jiwa: "Sumpah Pemuda".
Sejak malam bersejarah itu, Jalan Kramat 106 telah menjadi saksi atas kelahiran bangsa Indonesia (sebelum merdeka 1945).
A. Dari Gagasan menjadi Kongres
Awal tahun 1928, organisasi-organisasi pemuda yang tersebar di berbagai daerah mulai menyadari bahwa perjuangan mereka tak akan berhasil jika tetap terpisah-pisah.
Ada Jong Java, Jong Sumatranen Bond, Jong Ambon, Jong Celebes, Jong Batak, dan beberapa lainnya. Semua berdiri atas semangat daerah masing-masing.
Namun waktu mengajarkan, penjajahan tak mengenal batas pulau.
Dari situlah lahir gagasan untuk mengadakan kongres bersama, demi menyatukan arah perjuangan para pemuda seluruh Nusantara.
Gagasan ini kemudian diwujudkan oleh Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia (PPPI), organisasi pelajar yang dipenuhi anak muda berpendidikan dan berpikiran maju. Mereka memilih Jalan Kramat Raya 106 sebagai tempat pertemuan — gedung milik seorang Tionghoa bernama Sie Kong Liong, yang rela meminjamkan bangunannya demi perjuangan bangsa.
B. Hari Ke-1: Suara dari Berbagai Pulau
Tanggal 27 Oktober 1928, Kongres Pemuda II resmi dibuka. Suasana "Kota Batavia" sore itu tegang sekaligus penuh harapan. Pemuda dari berbagai daerah mulai berdatangan dengan pakaian adat masing-masing dan logat khas daerah masing-masing.
Di podium, Sugondo Djojopuspito, sang ketua kongres dari PPPI, membuka sidang dengan kata-kata yang menggema:
“Marilah kita tinggalkan semangat kedaerahan, dan berdiri tegak sebagai satu bangsa: Indonesia!”
Dari Sumatera datang Muhammad Yamin, yang lantang menyuarakan persatuan. Dari Sulawesi hadir R.C.L. Senduk dan Johannes Leimena membawa semangat laut timur. Dari Maluku datang Johannes Latuharhary, sementara Jawa diwakili oleh Soenario Sastrowardoyo dan W.R. Supratman, sang wartawan dan musisi muda.
Mereka berbeda bahasa, berbeda agama, bahkan berbeda adat — namun di Jalan Kramat 106, semua perbedaan itu melebur menjadi satu: Indonesia.
Hari Ke-2: Lahirnya Ikrar Persatuan
Hari kedua kongres berlangsung lebih intens. Diskusi demi diskusi mengarah pada satu kesimpulan: Indonesia membutuhkan identitas bersama.
Muhammad Yamin kemudian maju ke depan, membacakan gagasannya yang kelak menjadi dasar Sumpah Pemuda. Dengan suara tegas, ia berkata:
“Persatuan Indonesia tidak mungkin tercapai, bila kita masih terikat pada suku, agama, dan adat yang sempit.”
Suasana hening. Kata-kata itu menembus dinding kalbo dan relung hati (merinding)
Malamnya, sidang ditutup dengan satu momen yang tak terlupakan, ketika pemuda kelahiran Makassar, bernama: Wage Rudolf Supratman memainkan lagu ciptaannya, “Indonesia Raya.”
Meski Nada-nadanya lembut tapi maknanya berapi-api penuh wibawa, membuat seluruh peserta berdiri, menundukkan kepala, dengan mata berlinang penuh harap dalam doa, untuk Indonesia.
Tidak ada yang bersorak, tidak ada tepuk tangan, "Apalagi Joget-joget" hanya hening dan air mata haru, senyum sumringah penuh harap akan terciptanya persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia yang ber-Bhinneka Tunggal Ika.
Semua hadirin menyadari, bahwa malam itu telah lahir sebuah bangsa, yakni Bangsa Indonesia, didalam jiwa dan hati masing-masing.
Isi Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928
Keesokan harinya, 28 Oktober, para peserta kongres menyepakati tiga butir ikrar yang kemudian dikenal sebagai Sumpah Pemuda, yakni berbunyi:
Kami putra dan putri Indonesia, mengaku bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia.
Kami putra dan putri Indonesia, mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia.
Kami putra dan putri Indonesia, menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.
Tiga kalimat itu sederhana, tapi kekuatannya abadi. Ia mengikat ratusan suku, bahasa, dari berbagai pulau dalam satu nama, yakni: INDONESIA
Dari Jalan Kramat 106 Jakarta, untuk: "Tanah Air Indonesia"
Gedung di Jalan Kramat Raya 106 kini dikenal sebagai Museum Sumpah Pemuda.
Setiap temboknya masih menyimpan gema suara-suara masa lalu. Kursi kayu tempat para pemuda duduk, biola W.R. Supratman, hingga bendera yang dulu dikibarkan — semua menjadi saksi bisu bahwa kemerdekaan Indonesia lahir dari tekad anak muda.
Dari tempat inilah, semangat persatuan mulai menjalar ke seluruh penjuru Nusantara. Kesemuanya bermula dari: "Jalan Kramat 106" menjadi saksi bahwa kemerdekaan tidak dimulai dari perang, tapi dari persatuan pemikiran dengan satu tujuan.
Makna yang Tak Pernah Pudar
Sumpah Pemuda bukan sekadar sejarah yang dibaca setiap 28 Oktober. Ia adalah cermin jiwa bangsa. Di era modern ini, ketika perbedaan sering dijadikan alasan untuk berpecah, kita justru perlu kembali menengok ke Jalan Kramat 106, tempat di mana segala perbedaan Daerah justru muncul menjadi kekuatan bagi Dunia.
Semangat Sumpah Pemuda mengingatkan bahwa Indonesia berdiri karena keberagaman, dan tumbuh karena persatuan.
Tanpa Sumpah Pemuda, mungkin kita bukan bangsa yang satu, melainkan sekumpulan daerah yang terpisah oleh laut dan kepentingan.
Kesimpulan / Penutup
“Dari Jalan Kramat 106 untuk Indonesia” bukan sekadar kisah masa lalu, tapi pesan untuk masa depan.
Di tempat itulah, para pemuda mengajarkan kita arti sebenarnya dari kata “bersatu.”
Mereka tak memiliki harta, jabatan, atau kekuasaan, tapi hanya idealisme, keberanian, dan keyakinan bahwa Indonesia harus ada.
Hari ini, setiap kali kita mengucap kata “Indonesia”, kita sedang melanjutkan napas perjuangan mereka. Dari Jalan Kramat 106, untuk seluruh nusantara.
Dari pemuda 1928, untuk kita semua Bangsa INDONESI.
Komentar
Posting Komentar