Langsung ke konten utama

LAKSAMANA CHENG HO (Panglima China - Muslim)

Ekspedisi Terbesar Dunia

Laksamana Cheng Ho, (Panglima Cheng Ho) melakukan 7x pelayaran besar dihampir 30 negara di benua Asia dan Afrika termasuk, India, Timur Tengah, Teluk Persia, Pantai Timur Afrika, dan Indonesia, bertujuan untuk: 

- 1. Membina hubungan Dagang 

- 2. Menumpas Bajak Laut

- 3. Menyebarkan agama islam

Ekspedisi Pertama, pada tahun 1405: Laksamana Cheng Ho (Panglima China-Muslim) singgah di pelabuhan Samudera Pasai, untuk bertemu dengan Zainal Abidin Bahian Syah, guna membina hubungan baik dibidang perdagangan dan penyebaran islam. Nama Zainal Abidin dalam kronik Thionghoa pada pemerintahan Rajakula Ming, dengan bunyi: Tsai Nu Lia Pie Ting Kie. 

Maka mulai saat itu, banyak saudagar-saudagar dari Thionghoa datang berduyung-duyung ke Samudera Pasai (ACEH) dan memilih tinggal dan mencari jodoh di Samudera Pasai. Semakin lama semakin bertambah akhirnya mereka membuat perkampungan di daerah  "Kroceng Pirak" (Sungai Perak dekat Lho Sukon)

A. Asal-usul Laksamana Cheng Ho (Panglima China-Muslim)

Terlahir dengan nama MA HE, berasal dari Keluarga Muslim di Provinsi Yunan. Ia menjadi orang kepercayaan (Kasim) bagi Kaisar Yongle Dinasti Ming. Ia memilih jalur militer kemudian merangkak naik hinga menjadi Laksamana (Panglima Angkatan Laut) kerajaan Tiongkok. Sejak kecil, remaja, hingga meniti karier di militer angkatan laut, ia terkenal jujur, taat beribadah, sebagai keturunan dari "Sayyid Ajjal Shams Al Din Omar. Sebagai Militer yang berotak cerdas dengan budi pekerti luhur, sehingga menjadi Diplomat ulung dan ahli strategi militer serta pemimpin yang bijak bagi anak buahnya. Dalam ekspedisi yang dia pimpin sebanyak 307 Kapal, dengan puluhan ribuan Kru-Kapal (35 ribu). Inilah pelayaran terbesar yang pernah terjadi didunia, tak tertandingi.

B. JEJAK PANGLIMA CHENG HO di Nusantara

Setelah mengunjungi Samudera Pasai (Aceh), ia beserta rombongan bergerak meneruskan perjalanan ke Palembang, Cirebon, Semarang dan Majapahit. 

1. PALEMBANG

Kedatangan Panglima Cheng Ho di Palembang, guna mengejar bajak laut (perompak) yang bernama: Cheng Zuyi orang Quangdong. Setelah Panglima Cheng Ho, berhasil menumpas perompak, maka terciptalah kedamaian antara komunitas china muslim dan penduduk setempat, yang akhirnya mereka rukun dan terjadi perkawinan diantara mereka.

Untuk mengabadikan nama besar Panglima Cheng Ho, dan mengenang jasa-jasanya, maka didirikan Mesjid CHENG HO di Palembang, memadukan Tiongkok-Islam-Palembang

2. CIREBON

Panglima Cheng Ho, tiba di Muarajati untuk memperbaiki kapal-kapal setelah berlayar melalui Karawang. Peninggalannya berupa mercusuar dekat bukit Amparajanti

3. SEMARANG 

Panglima Cheng Ho, juga berkesempatan ke Semarang, dengan membangun Kelenteng Sam Poo Kong. Beberapa pengikut Panglima Cheng Ho, memutuskan untuk tinggal di Semarang, dan menikahi penduduk pribumi,  Komunitas mereka pertama kali, berdomisili di daerah Simongan. Para bekas Kru-kru kapal inilah yang pandai dan mahir membuat perahu dan Kapal yang banyak bertebaran di dermaga semarang. 

4. MAJAPAHIT

Berlabuh di Tuban lalu ke arah Timur (Surabaya). Setelah dari Surabaya, ekspedisi berlanjut ke tujuan, yakni ke Majapahit. Berikut catatan Ma Huan.

“Dari Su-erh-pa-ya kapal kecil berlayar sekitar 70 atau 80 li menuju pelabuhan bernama Chang-ku (Canggu) untuk berlabuh dan setelah berjalan satu setengah hari kearah barat daya, sampailah ke Man-che-po-i (Majapahit), tempat dimana sang raja tinggal. Tempat ini ada sekitar 200 atau 300 keluarga asing, dengan 7 atau 8 pemimpin untuk melayani raja.” 

Kesimpulan 

1. Setiap ada pelabuhan di singgahi, ada saja beberapa kru kapal (pengikut) yang ingin tinggal "menetap" di Nusantara.

2. Rata-rata Kru kapal, tinggal di pesisur dan menikahi gadis-perempuan setempat, sehingga lahirlah China-Peranakan.

3. Kedatangan orang Thionghoa, berikutnya, biasanya mencari China-Peranakan untuk di nikahi. 

4. Panglima Cheng Ho, sangat besar jasa-jasanya di Nusantara, terutama penumpasan bajak laut (perompak) guna menciptakan suasana aman tentram, sehingga perekonomian masyarakat berjalan.

5. Selain misi militer dan perdagangan, sebagaimana ditugaskan oleh Kaisar Jongle Dinasti Ming, Laksamana Cheng Ho, juga membawa mubaligh penyebar islam di Nusantara, yang kelak menjadi "Wali Songo".

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kisah SOEHARTO: dari Sawah Kemusuk, Tumpas PKI jadi Presiden, hingga "Lengser Keprabon" 1998

"... Kisah panjang perjalanan hidup Jenderal Besar H. M. Soeharto — dari anak petani desa kemusuk- Jogjakarta yang pemalu hingga sukses jadi presiden paling lama memimpin Indonesia selama 32 tahun...."   Soeharto adalah salah satu tokoh paling berpengaruh dalam sejarah Indonesia modern. Lahir di sebuah desa kecil bernama Kemusuk, Yogyakarta, ia tumbuh dalam kesederhanaan, jauh dari gemerlap kota, dan gelimangan harta, apalagi kekuasaan orangtuanya. Namun takdir membawanya menapaki jalan panjang: dari seorang bocah sawah yang pemalu, menjadi prajurit militer, lalu menjadi Jenderal Besar, hingga akhirnya menjadi " Presiden Republik Indonesia ke-2  (1967- 1998), s elama hampir 32 tahun ia memimpin negeri ini dalam era yang disebut Orde Baru. Namanya dikenang sebagai Bapak Pembangunan, tetapi juga meninggalkan kontroversi besar. Inilah kisah panjang, penuh drama, tentang perjalanan hidup Soeharto — dari sawah Kemusuk hingga detik-detik lengser pada 1998. A.  Latar Belakang:...

Mayjen PRANOTO: Pengganti Ahmad Yani, dilarang ketemu Soekarno, lalu "Dipenjara" 15 Tahun

". ..Gejolak Politik 1965, terangkum pula "Kisah Pranoto sebagai Pengganti (sementara) Panglima AD Ahmad Yani, berikut kisah perjalanan hidupnya, yang dituduhkan (gosip) terlibat G30S PKI, lalu di Penjara 15 Tahun..." Pranoto Reksosamodra, lahir di Surakarta (Jawa Tengah) tahun 1920, dia adalah salah satu perwira TNI Angkatan Darat yang dikenal profesional dan moderat. Namanya sempat mencuat sebagai calon pengganti Panglima AD Jenderal Ahmad Yani pada peristiwa G30S 1965. Namun, dominasi politik militer dan krisis nasional membuatnya tersingkir, mengalami penahanan, dan kehilangan peluang kepemimpinan. Biografi ini menelusuri perjalanan karier dan kehidupan Pranoto dalam konteks politik-militer Indonesia yang kompleks. A.  Awal Karier Militer        Pranoto memulai karier sebagai perwira Angkatan Darat pasca-kemerdekaan Indonesia tahun 1945. Dalam era sebagai awal pembentukan TNI, ia memiliki kemampuan strategi, disiplin, dan loyalitasnya membuat karir menanja...

3 Nama "Penumpas" G30S PKI: SOEHARTO, SARWO, NASUTION

"... Sejarah kelam bangsa Indonesia, akibat terjadinya pengkhianatan melalui G30S/PKI 1965. Disebut "Pengkhianatan" karena dilakukan oleh beberapa tokoh nasional Indonesia,  Pejabat Negara (Menteri/Wakil menteri) serta sejumlah oknum militer (TNI)... "  Peristiwa G30S/PKI merupakan tragedi besar dalam sejarah Indonesia modern, yang masih berusia "20 tahun Merdeka". Peristiwa itu, terjadi pada malam 30 September 1965, dimana Partai Komunis Indonesia (PKI) melancarkan gerakan militer yang menargetkan pucuk pimpinan Angkatan Darat, dengan memakai istilah "Dewan Jenderal" yang mengakibatkan " Tujuh Perwira" menjadi korban dalam peristiwa keji tersebut. Namun, gerakan itu hanya bertahan singkat karena dalam hitungan hari, kekuatan militer di bawah kendali Mayor Jenderal Soeharto, didukung Kolonel Sarwo Edhie Wibowo dan Jenderal A.H. Nasution, berhasil menumpasnya. Dari tragedi itu, lahir babak baru sejarah Indonesia yang dikenal sebagai O...